Selasa, 04 November 2008

tapak





victoria square


Jumat, 31 Oktober 2008

global warming






GLOBAL WARMING- dunia ini sedang demam
Filed under: Uncategorized — rezanurrahman1988 @ 10:58 pm
Menyesakkan memang bila saya membicarakan soal global warming. Dahulu hanya sekedar isu, sekarang menjadi suatu masalah. Dahulu hanya beberapa jurnal membahas global warming, sekarang menjadi ratusan-ribuan jurnal membahas global warming. Dahulu tidak terasa efeknya, sekarang benar-benar terasa efeknya.
GLOBAL WARMING-dunia ini sedang demam
Revolusi industri adalah start awal dari global warming. Dimana dampak jangka pendeknya pun terasa, seperti kesenjangan ekonomi dan kerusakan organ-organ tubuh, tapi alasan itu tidak cukup untuk mengubah revolusi ini karena memang ini menguntungkan beberapa pihak(pengusaha). Asap-asap hitam kelam dan berbau keluar dari cerobong pabrik, orang dulu mungkin berfikiran “wah sepertinya nanti akan menjadi masalah besar di bumi ini, langit akan menjadi gelap, sesak, dan cahaya matahari tidak akan mencapai bumi”
“Tidak salah !!! memang sekarang menjadi masalah besar, masalah besar di bumi ini, tapi bumi ini makin terang(panas) saja, dan cahaya matahari sekarang tidak nyaman
Industri??!! Siapa sih yang belum pernah lihat perindustrian(pabrik)?gedung besar dengan cerobongnya? tentunya orang yang menjawab belum pernah lihat, biasanya di-kata-i norak, kampungan. Ya, merekalah(pabrik bercerobong asap CO2) penyumbang terbesar pemanasan global,setelah itu lalu pengguna kendaraan bermotor, lalu penggunaan bahan-bahan yang merusak ozon(methana, oksida nitrogen dan CFC).
Silakan lihat data dari pemanasan global
1. Temperatur udara di permukaan bumi naik sekitar 0,74 derajat celcius dari 100 tahun yang lalu
2. Pada abad ke-20, kecepatan kenaikan air laut sekitar 1,7 mm per tahun dan dengan percepatan kenaikan air laut 0,013 mm per tahun per tahun.
3. Perubahan cuaca/bencana cuaca(extreme weather) dimana terjadinya karena kesenjangan suhu yang sangat jauh,biasanya angin besar.
4. diramalkan akan terjadi wabah penyakit, dimana penyakit-penyakit yang dulu terisolasi(isolasi suhu) menjadi terbebas, dan memulai wabah.
5. masih banyak lagi dampak dari global warming.
Dengan begitu banyak dampak yang terjadi oleh global warming, kita seharusnya sudah memerangi permasalahan ini dengan pernyataan sikap terhadap solusi-solusi yang disarankan oleh ahli-ahli lingkungan


Apakah itu Pemanasan Global

Pemanasan global bisa diartikan sebagai menghangatnya permukaan Bumi selama beberapa kurun waktu. Ini adalah gejala alam yang normal sebenarnya. Kalau tidak mendapat pemanasan maka suhu di Bumi bisa menjadi dingin membeku seperti pada jaman es yang pernah terjadi 15.000 tahun lalu.
Pemanasan pada permukaan Bumi dikenal dengan istilah 'Efek Rumah Kaca' atau Greenhouse Effect. Proses ini berawal dari sinar Matahari yang menembus lapisan udara (atmosfer) dan memanasi permukaan Bumi.

Permukaan Bumi yang menjadi panas menghangatkan udara yang berada tepat di atasnya. Karena menjadi ringan, udara panas tersebut naik dan posisinya digantikan oleh udara sejuk.
Sebagian dari udara panas yang naik ke atas ditahan dan dipantulkan kembali ke permukaan oleh lapisan gas di atmosfer Bumi yang terdiri dari Karbon Dioksida, Metan dan Natrium Oksida. Udara panas yang dipantulkan tersebut berfungsi untuk menjaga temperatur Bumi supaya tidak menjadi beku. Proses pemantulan udara panas untuk menghangatkan Bumi inilah yang disebut dengan efek rumah kaca.
Tapi proses alam yang normal tersebut menjadi tidak sehat sejak manusia memasuki proses industri. Pada masa ini manusia mulai melakukan pembakaran batu bara, minyak dan gas bumi untuk menghasilkan bahan bakar dan listrik. Proses pembakaran energi dari Bumi ini ternyata menghasilkan gas buangan yang berupa karbon dioksida. Otomatis, kadar lapisan gas rumah kaca yang menahan dan memantulkan kembali udara panas ke Bumi menjadi semakin banyak.
Kalau Bumi terus menerus terkena pemanasan ini, bahaya besar lainnya akan muncul, atau bahkan sudah terjadi dan sedang kita rasakan saat ini. Efek pertama yang terjadi adalah tingginya temperatur udara. Masyarakat di Eropa Barat pada bulan-bulan kemarin sudah merasakan bagaimana tersiksanya hidup ketika suhu menjadi luar biasa panas. Jumlah korban yang meninggal akibat 'kepanasan' mencapai ratusan, belum terhitung yang harus mengalami rawat inap karena dehidrasi. Sungguh bukan masalah yang sepele.
Temperatur yang terus meningkat dapat melelehkan banyak salju di kedua kutub bumi dan gunung-gunung tertinggi dunia. Para ahli lingkungan sudah membuat laporan baru kalau saat ini salju dunia secara keseluruhan sudah berkurang 10%. Hasilnya adalah volume air yang mengalir ke lautan akan semakin tinggi yang otomatis menaikkan permukaan laut.
Pemanasan global, suhu udara meningkat, melelehnya salju dunia, serta naiknya permukaan laut pada akhirnya dapat menyebabkan perubahan iklim. Kita sekarang merasakan datangnya musim kemarau yang lebih lama dari seharusnya. Akibatnya air tanah menjadi langka karena belum mendapat pasokan baru dari hujan.
Jadi pemanasan global yang terjadi karena perbuatan manusia memang memiliki efek negatif yang tidak bisa dipandang sepele. Dan kita pun, suka tidak suka, tercatat sebagai salah satu pelakunya. Cobalah mulai sekarang kita ubah kebiasaan yang bisa mengurangi kadar gas karbon dioksida supaya tidak melebihi ambang batas. Caranya? Cukup memakai listrik seperlunya, memilih alat rumah tangga atau elektronik yang hemat energi, dan kalau bisa menanam pohon untuk menyerap gas karbon dioksida yang ada di udara.
Dirangkum dari berbagai sumber.
[www.sekolahindonesia.com ]




HUTAN DAN PEMANASAN GLOBAL




1. Masalah LINGKUNGAN HIDUP Milenium Ke
Tiga

Kompleksitas permasalahan pembangunan yang akan dihadapi pada era milenium ketiga, dimana isu hak asasi manusia, demokrasi dan lingkungan hidup, tidak mungkin ditangani secara business as usual. Oleh karena itu Pengelolaan Lingkungan Hidup menuntut dilakukannya re-orientasi dan re-formulasi berbagai paradigma, kebijaksanaan, program dan kegiatan pengelolaan lingkungan hidup yang selama ini telah dilaksanakan.

Kecenderungan manusia dengan pertumbuhannya yang sangat cepat menjadi faktor penyebab utama perubahan lingkungan ternyata telah terbukti. Meningkatnya tingkat gas-gas rumah kaca di atmosfir sebagai akibat meningkatnya kegiatan industri dan berkurangnya secara drastis kawasan hutan tropis karena ulah manusia adalah satu peringatan (waming) bagi umat manusia dalam memasuki milenium ke tiga. Oleh karena itu, selayaknyalah apabila umat manusia mengkaji ulang apa saja yang telah dicapai di masa lalu dalam interaksinya dengan bumi agar dapat menjangkau visi masa depan:

“menuju terciptanya masyarakat madani yang adil-makmur, aman, tenteram, sejahtera dalam Pembangunan Berkelanjutan Berwawasan Lingkungan Hidup”.


Adalah sangat tepat apabila momentum memasuki milenium ke tiga digunakan untuk belajar dari pengalaman masa lalu dan mempertimbangkan kewajiban-kewajiban umat manusia di dalam menyempurnakan pengelolaan lingkungan.

Pada kurun waktu mendatang tidak ada hal yang lebih penting bagi umat manusia agar dapat menjawab tantangan lingkungan yang dihadapi. Bukti-bukti signifikan menunjukkan bahwa cara-cara umat manusia mengkonsumsi sumberdaya alam mengakibatkan kerusakan keanekaragaman hayati yang sebenarnya merupakan landasan kehidupan manusia di muka bumi.

Gejala alam yang terjadi pada akhir milenium ke dua menunjukkan berbagai kejanggalan sifat-sifat alam seperti perubahan iklim yang menyimpang dan merusak, sehingga menimbulkan kebakaran hutan, banjir, serta badai yang mengancam kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya. Ironisnya, pada masa lalu, gejala alam tersebut diterima sebagai "kekuatan alam", namun pada masyarakat modern umat manusia menanggapi perubahan perilaku alam tersebut sebagai peringatan yang sangat serius bagi keberlangsungan kehidupan manusia. Tentu saja perubahan iklim merupakan salah satu aspek alam yang diperhatikan dalam kurun waktu ribuan tahun.

Alam tidak statis, akan tetapi saat ini secara nyata yang dihadapi umat manusia bukan melulu perubahan iklim, namun perubahan pola iklim global yang disebabkan oleh aktifitas umat manusia yang tidak bersifat alami.

Dalam perjalanan sejarahnya yang panjang, bumi secara perlahan-lahan telah mengabsorsi perubahan iklim dan beradaptasi dengan sistem-sistem baru untuk menyesuaikan dengan kondisi yang baru. Hutan selalu dapat digunakan sebagai barometer untuk perubahan-perubahan tersebut. Selama periode jaman es, misalnya, daerah tropis menjadi dingin dan kering, serta hutan-hutan tropis tersebut menjadi terkontraksi. Hal ini menyebabkan musim kering yang panjang, sehingga menimbulkan kelembaban yang tidak memungkinkan pertumbuhan dan serasah menjadi kering, menghasilkan hutan yang sangat rentan terhadap kebakaran yang berasal dari ladang-ladang ilalang di dekatnya.

Namun saat ini, ketika musim kering muncul lagi di wilayah tropis, kebakaran hutan tropis terutama disebabkan oleh api yang dipergunakan sebagai alat untuk mengkonversi hutan menjadi lahan pertanian. Seperti yang kita saksikan saat ini di benua Asia dan Amerika Latin, praktek penggunaan api sebagai alat untuk pembukaan lahan, tidak hanya memusnahkan bakteri-bakteri yang ada di lahhan hutan tropis, namun juga menambah jumlah produksi karbon dioksida (CO2) secara signifikan sehingga menjadi penyebab perubahan iklim secara cepat serta mengancam hutan secara terus menerus.

Beberapa survei lingkungan menunjukkan bahwa bahwa hutan tropis di Amazon dan Asia Tenggara serta Afrika Barat sedang mengalami kerusakan dengan laju yang sangat cepat.

Hardley Centre for Climate Change di Berkshire lnggris telah mampu mengembangkan model komputer canggih untuk memprediksikan terjadinya perubahan hutan tropis Amazon menjadi gurun apabila tidak dilakukan pencegahan-pencegahan yang signifikan pada paruh milenium ke tiga ini.

Keseluruhan peringatan tersebut di atas, tidak hanya merupakan malapetaka di wilayah ekosistem hutan serta makhluk hidup yang tergantung padanya, tetapi juga menyebabkan perubahan pola iklim global akibat dari hilangnya wilayah hutan. Tumbuh-tumbuhan mengabsorpsi CO2 sebagai gas yang berasal dari perubahan bahan-bahan fosil yang menimbulkan pemanasan bumi serta mempunyai konsekuensi pada perubahan pola iklim global.

Berkurangnya jumlah tumbuh-tumbuhan berarti mengurangi kapasitas absorpsi terhadap CO2. Ironisnya, Hardley Centre menemukan bahwa bencana kebakaran hutan yang terjadi pada tahun 1998 menyebabkan hutan menjadi penghasil CO2. Sebagai akibatnya, hutan yang seharusnya memberikan jasanya untuk memecahkan masalah pemanasan global (global warming) justru berbalik menjadi bagian dari permasalahan pemanasan global tersebut.

Pemahaman umat manusia mengenai kenyataan terjadinya perubahan iklim memakan waktu yang cukup lama. Walaupun perubahan iklim dan potensi perubahan tersebut yang membahayakan telah dapat diterima, umat manusia masih tetap sulit untuk memahami akibat dari kehilangan keanekaragaman hayati serta apa makna kehilangan tersebut bagi kehidupan di muka bumi. Sementara itu bukti-bukti baru terus bermunculan.

Memasuki milenium ke tiga semakin jelas tanda-tanda meningkatnya tekanan terhadap lingkungan kearah yang lebih buruk lagi. Dalam waktu yang relatif singkat bumi akan berisi delapan milyar umat manusia, yang membutuhkan ruang, pemukiman, dan enerji serta aktifitas ekonomi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Dapat dibayangkan akibatnya apabila dengan jumlah penduduk yang demikian besar bumi tempat kita hidup harus mendukung demikian besar jumlah manusia dengan kelalaian memelihara bumi dengan sifat perusaknya.

Sejalan dengan persiapan umat manusia memasuki milenium ke tiga, maka dituntut untuk merubah perilaku serta perlakuannya terhadap bumi dan manusia segala isinya. Besaran masalah yang akan di hadapi oleh manusia dalam milenium ke tiga tidak mungkin hanya di lakukan oleh para pihak yang peduli terhadap llingkungan. Seluruh umat manusia saat ini harus membaur dengan para peduli lingkungan untuk mengemban paradigms baru dalam hubungan antara umat manusia dengan lingkungannya.

Lingkungan bukanlah sesuatu yang "berada" di luar domain kehidupan manusia. Lingkungan adalah bagian integral dan sentral untuk masa depan umat manusia serta penting untuk keberlangsungan kehidupan di muka bumi.

Apabila kepedulian lingkungan ini diabaikan oleh umat manusia maka dikhawatirkan akan terjadi tragedi umat manusia secara masal menyeluruh (the tragedy of the common principle).

Peringatan terhadap umat manusia dalam memasuki milenium ke tiga tersebut di atas perlu mendapat perhatian secara seksama bagi bangsa Indonesia. Berbagai peringatan yang menjadi kecemasan umat manusia terhadap bumi dengan segala isinya telah terbukti terjadi di Indonesia. Kebakaran hutan pada tahun 1997 yang berlanjut pada tahun 1998 adalah bukti nyata keteledoran kita dalam mengelola lingkungan.

Masyarakat dan Dunia Usaha masih mempunyai peluang yang cukup besar dalam pengelolaan lingkungan hidup masa mendatang. Pendekatan dalam pengelolaan lingkungan hidup menunjukkan bahwa berbagai modal sosial (social capital/aset) yang dimiliki oleh suatu kelompok masyarakat merupakan potensi untuk mendorong kesadaran dan kepedulian masyarakat dan dunia usaha melindungi lingkungan. Sistem insentif yang telah dikembangkan oleh Pemerintah juga akan mendorong partisipasi masyarakat dan dunia usaha dalam pengelolaan lingkungan yang efektif.

Selain itu, ada beberapa potensi di masyarakat yang dapat dikembangkan untuk mendorong kepedulian lingkungan yaitu antara lain:

1.Kearifan tradisional.
Dalam banyak kelompok masyarakat, kearifan lingkungan (environmental wisdom) merupakan tradisi yang ampuh untuk mempertahankan keanekaragaman hayati dengan pola pemanfaatan yang berkesinambungan. Semakin kuat dan semakin beragamnya kearifan lingkungan dalam suatu kelompok masyarakat merupakan salah satu modal sosial yang sangat penting dalam pengelolaan lingkungan.

2.Etika Lingkungan.
Untuk menciptakan lingkungan yang baik, perlu ditumbuhkan etika lingkungan. Berbagai negara yang telah tinggi kesadaran lingkungannya dapat menciptakan etika lingkungan yang menjadi acuan setiap anggota kelompok masyarakatnya. Etika Lingkungan dalam praktek mikronya dapat ditemui di berbagai kelompok masyarakat yang masih dapat mempertahankan kearifan lingkungan

3.Kelembagaan / pranata.
Eksistensi kelembagaan / pranata lingkungan dalam suatu kelompok masyarakat, merupakan ukuran tingkat kepedulian dan kebutuhan akan pengelolaan lingkungan hidup. Selain itu, pranata dan kelembagaan dalam lingkungan sosial merupakan salah satu instrumen pengelolaan konflik yang sangat efektif.

2. KEPRIHATINAN LINGKUNGAN


Udara, air dan tanah merupakan sumberdaya yang esensial bagi kehidupan manusia. Namun ketiga sumberdaya itu telah mengalami kerusakan yang parah. Pencemaran udara terdapat pada tingkat lokal sampai pada tingkat global.

Banyak kota yang udaranya telah tercemar. Pencemaran udara yang bersifat regional ialah hujan asam. Hujan asam dan percemaran oleh ozon telah menimbulkan kerusakan pada berjuta hektar hutan dan diperkirakan telah menurunkan hasil pertanian. Danau-danau telah mati karena asidifikasi oleh hujan asam. Hujan asam telah merusak pula gedung-gedung dan momumen yang bersejarah di Eropa, terutama yang terbuat dari marmer.

Pencemaran udara yang bersifat global ialah yang mengakibatkan terjadinya pemanasan global dan lubang ozon. Pemanasan global ialah peristiwa terjadinya kenaikan suhu permukaan bumi oleh karena naiknya intensitas efek rumah kaca yang disebabkan oleh meningkatnya kadar gas rumah kaca (GRK). GRK yang penting ialah CO2, CFC, Ozon, Metan dan N20.

Gas CO2 berasal dari semua jenis pembakaran. Penyebab utama kenaikan kadar CO2 ialah pembakaran bahan bakar fosil (BBF), yaitu BBM, gas bumi dan batu bara, dalam kegiatan pembangkitan energi dan transportasi. Sumber utama lainnya ialah penebangan dan pembakaran hutan.

CFC merupakan gas buatan manusia yang sangat banyak digunakan dalam industri, mesin pendingin dan aerosol.

Ozon sebagian terbentuk dalam alam dan sebagian lain lagi merupakan hasil propses fotokimia beberapa gas buangan mesin.

Metan terbentuk dalam alam, antara lain, pada rawa, sawah, dan dalam perut ternak.

Pemanasan global dikhawatirkan akan mengubah pola iklim dunia, antara lain, perubabahan pola hujan serta kenaikan intensitas dan frekuensi badai dan taufan. Kanaikan suhu dikhawatirkan akan menaikkan permukaan laut sehingga pantai akan tergenang dan akan merusak tambak, pemukiman dan kota di daerah pantai.

Lubang ozon ialah istilah populer untuk menjelaskan menurunnya kadar ozon di stratosfer. Salah satu penyebabnya ialah CFC. Dengan terjadinva lubang ozon dikhawatirkan penderita kanker kulit dan penyakit mata katarak akan bertambah. Sistem kekebalan tubuh juga akan terganggu.



3. Gas Rumah-kaca (CO2) ancaman global

Para ilmuan dunia kebingungan atas hilangnya secara misterius dari atmosfer bumi , begitu banyak gas CO2 buatan manusia (gas rumah kaca utama). Upaya besar tengah dilakukan untuk mengetahui kemana perginya gas itu ?.

Para ahli memperkirakan bahwa sekitar 6000 juta ton metrik karbon dipancarkan ke atmosfer setiap tahun dalam bentuk gas CO2. Pelepasan gas ini ke atmosfer melalui berbagai kegiatan seperti pembakaran bahan bakar fosil (BBF), utamanya minyak dan batubara, kegiatan penebangan dan pembakaran hutan. Akan tetapi hanya separuh gas tersebut yang mengembara di atmosfer, dan mengurung panas yang dapat menyebabkan PEMANASAN GLOBAL.
Hal yang menjadi teka-teki adalah apa yang sedang terjadi atas separuh lainnya, lebih dari 3000 juta ton metrik setiap tahun, entah bagaimana hilang dari atmosfer.

Telah terjadi ketidak-seimbangan besar, menurut Lee Klinger, seorang pakar dari Pusat Penelitian Atmosfer Nasional di Colorado. Jauh lebih banyak CO2 yang dilepaskan ke atmosfer daripada yang dapat diketahui.
Upaya global yang sangat serius terus dilakukan untuk menemukan “BASKOM” karbon, istilah yang digunakan untuk menyebut mekanisme penyebab sebagian besar hilangnya karbon itu.

Pengetahuan tentang sumber karbon dan Baskom karbon tersebut sangat penting untuk dapat meramalkan seberapa cepat proses pemanasan global akan terjadi.

Suatu teori yang lebih menakutkan ialah bahwa banyak sekali CO2 sekarang ini tersimpan di suatu tempat di planet bumi yang sewaktu-waktu dapat terlepas mendadak karena suatu kejadian pemicu, dengan akibat yang mungkin menimbulkan bencana dahsyat secara global.

Tempat yang diperkirakan mungkin menjadi pelepasan mendadak CO2 tersebut adalah lautan, yang selama bertahun-tahun menyimpan larutan karbon di kedalamannya, dan hutan-hutan luas di belahan bumi utara.

Menurut para ilmuah, dalam suatu kejadian hebat sekitar tahun 1986, letusan gungung api, tanah longsor dan gempa bumi, mengakibatkan Danau Nios di Kamerun tiba-tiba memuntahkan sejumlah besar CO2 ke atmosfer yang sebelumnya tersimpan di dasar danau.


4. DEFORESTATION dan CO2 atmosfer

Konversi hutan menjadi lahan pertanian, pemanenan hasil kayu hutan, dan pembukaan lahan hutan menyebabkan pelepasan neto CO2 ke dalam atmosfer. Estimasi para ahli FAO menyatakan deforestasi hutan tropis berkisar 3.3 - 20 juta ha setiap tahun. Pelepasan CO2 dari biota dan dari pembakaran bahan bakar fosil telah meningkatkan CO2 atmosfer dan telah mencapai puncaknya pada akhir abad 20.
Peningkatan CO2 atmosfer ini diperkirakan menyebabkan terjadinya pemanasan global, melalui “EFEK RUMAH KACA” . Selanjutnya pemanasan global ini mengakibatkan perubahan pola iklim dunia yang cukup signifikan untuk berpengaruh terhadap distribusi lahan pertanian dan hutan, serta produktifitas pertanian.
Peningkatan suhu udara global diperkirakan akan menyebabkan es-kutub mencair dan secara potensial dapat menaikkan permukaan air laut 3 – 5 meter dalam 100 – 200 tahun (MacDonald, 1978; Revelle, 1982).

Perkiraan saat ini mengenai mekanisme CO2 - biotik adalah berkisar dari net-uptake sebesar 2.0 x 1015 g C hingga net-release 4.7 x 1015 g C (Seiler dan Crutzen, 1980). Hal yang penting adalah bagaimana aliran karbon antara ekosistem darat dan atmosfer.

Biota dan tanah melepaskan antara 1.8 dan 4.7 x 1015 g C pada tahun 1980-an (Houghton, 1983). Dari jumlah ini ternyata sekitar 90% atau 1.3 – 4.2 x 1015 g C terjadi di daerah tropis. Sumber utamanya ialah penebangan hutan tropis dan berbagai bentuk gangguan ekosistem tropis lainnya.

Di Asia Tenggara, pelepasan CO2 neto mencapai 0.43 x 1015 g C (tahun 1980-an), jumlah ini sekitar 17% dari pelepasan CO2 global. Jumlah pelepasan ini terkait dengan gangguan yang terjadi pada lahan seluas 7 – 9 juta hektar. Transformasi lahan hutan menjadi ladang berpindah, dan pertanian menetap telah menyumbangkan masing-masing setengah dan sepertiga dari jumlah pelepasan CO2 ini. Sisanya terkait dengan aktivitas pemanenan hasil hutan kayu timber dan kayu bakar.
Pelepasan karbon dari vegetasi dan tanah di Asia Tenggara ini telah mengakibatkan berkurangnya cadangan karbon biota dari 130 x 1015 g C (tahun 1800-an) menjadi 100 x 1015 g C (tahun 1980-an).


5. Deforestasi dan Implikasi Klimatik

1. Global radiation dan Net radiation

Dalam ekosistem yang bervegetasi, sebagian besar solar-radiasi ditangkap oleh tajuk tumbuhan dan hanya sebagian kecil yang diteruskan dan direfleksikan kembali atau hilang. Oleh karena itu pelenyapan vegetasi, seperti penebangan hutan, akan meningkatkan secara drastis jumlah solar-radiasi yang mencapai permukaan tanah.
Vegetasi penutup permukaan tanah, selain vegetasi hutan, biasanya mempunyai nilai transmisi dan reflektivitas radiasi yang lebih tinggi dibandingkan dengan vegetasi hutan. Hal ini mengakibatkan semakin banyaknya energi radiasi yang dapat m,encapai permukaan tanah dan akibat selanjutnya ialah perubahan pola suhu tanah.

2. Pola temperatur

Banyak bukti empiris menunjukkan bahwa pembukaan lahan hutan diikuti oleh lebih tingginya suhu udara siang hari. Suhu udara pada ekosistem hutan lebih rendah dibandingkan dengan ekosistem pertanian, perbedaan dapat mencapai 1.0 -–1.5oC. Hasil studi di Afrika Barat membuktikan bahwa suhu udara di daerah yang dibuka lebih tinggi (sekitar 4oC) dibandingkan dengan daerah hutan.
Dalam kaitannya dengan suhu udara ini, di daerah yang hutannya dibuka ternyata suhu siangnya lebih tinggi dan suhu malamnya lebih rendah.

3. Kelembaban udara
Salah satu peran utama vegetasi hutan adalah menjaga kelembaban udara yang relatif tinggi, udara tidak menjadi terlalu kering. Penebangan dan pembukaan hutan berdampak pada menurunnya kelembaban udara, mempercepat evaporasi dan mendorong terjadinya defisit kelengasan tanah dan bahaya kekeringan.


Referensi

Hansen , J.D. dkk. 1981. Climate impact of increasing atmospheric CO2. Science 213: 957-966.

Houghton, R.A. dkk. 1983. Changes in the carbon content of terrestrial biota and soils between 1860 and 1980: A net release of CO2 to the atmosphere. Ecological Monpgraph..

Lal, R. dan D,J.Cummings. 1979. Clearing a tropical forest: I. Effect on soil and micro-climate. Field Crops Research 2: 91-107.

Lawson, T.L. 1984. Deforestation and induced changes in meso/micro-climate. Tropical Agric. Hydrology. John Wiley & Sons. USA.

MacDonald, G.J.F. 1978. An overview of the impact of carbon dioxide on climate. Mitre Corp. M78-79, McLean, Virginia.

Manabe, S dan R.T.Wetherald. 1980. On the distribution of climate changes resulting from an increase in CO2 content of the atmosphere. J. Atmos. Sci. 37: 99-118.

Myers, N. 1980. Conversion of tropical rain forests. National research Council, Washington DC.

Palm, C.A., R.A. Hhoughton, J.M. Melillo, D. Skole dan G.M. Woodwell. 1983. The effect of tropical deforestation on atmosferic CO2.

Potter, G.L., H.W.Ellaesser, M.C.MacCracken dan F.M. Luther. 1975. Possible impact of tropical deforestation. Nature 258: 697 – 698.

Revelle, R. 1982. Carbon dioxide and world climate. Scientific American 247: 35-43.

Richhards, P.W. 1966. The tropical rain forest. Cambridge Univ. Cambridge.

Seiler, W. dan P.J. Crutzen. 1980. Estimates of gross and net fluxes of carbon between the biosphere and the atmosphere from biomass burning. Climatic Change 2: 207-247.

Anomali temperatur permukaan rata-rata selama periode 1995 sampai 2004 dengan dibandingkan pada temperatur rata-rata dari 1940 sampai 1980
Pemanasan global adalah kejadian meningkatnya temperatur rata-rata atmosfer, laut dan daratan Bumi.
Temperatur rata-rata global pada permukaan Bumi telah meningkat 0.74 � 0.18 �C (1.33 � 0.32 �F) selama seratus tahun terakhir. Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menyimpulkan bahwa, "sebagian besar peningkatan temperatur rata-rata global sejak pertengahan abad ke-20 kemungkinan besar disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca akibat aktivitas manusia"[1] melalui efek rumah kaca. Kesimpulan dasar ini telah dikemukakan oleh setidaknya 30 badan ilmiah dan akademik, termasuk semua akademi sains nasional dari negara-negara G8. Akan tetapi, masih terdapat beberapa ilmuwan yang tidak setuju dengan beberapa kesimpulan yang dikemukakan IPCC tersebut.
Model iklim yang dijadikan acuan oleh projek IPCC menunjukkan temperatur permukaan global akan meningkat 1.1 hingga 6.4 �C (2.0 hingga 11.5 �F) antara tahun 1990 dan 2100.[1] Adanya beberapa hasil yang berbeda diakibatkan oleh penggunaan skenario-skenario berbeda pula dari emisi gas-gas rumah kaca di masa mendatang juga akibat model-model dengan sensitivitas iklim yang berbeda pula. Walaupun sebagian besar penelitian memfokuskan diri pada periode hingga 2100, pemanasan dan kenaikan muka air laut diperkirakan akan terus berlanjut selama lebih dari seribu tahun jika tingkat emisi gas rumah kaca telah stabil.[1] Ini mencerminkan besarnya kapasitas panas dari lautan.
Meningkatnya temperatur global diperkirakan akan menyebabkan perubahan-perubahan yang lain seperti naiknya muka air laut, meningkatnya intensitas kejadian cuaca yang ekstrim,[2] serta perubahan jumlah dan pola presipitasi. Akibat-akibat pemanasan global yang lain adalah terpengaruhnya hasil pertanian, hilangnya gletser dan punahnya berbagai jenis hewan.
Beberapa hal-hal yang masih diragukan para ilmuan adalah mengenai jumlah pemanasan yang diperkirakan akan terjadi di masa depan, dan bagaimana pemanasan serta perubahan-perubahan yang terjadi tersebut akan bervariasi dari satu daerah ke daerah yang lain. Hingga saat ini masih terjadi perdebatan politik dan publik di dunia mengenai apa, jika ada, tindakan yang harus dilakukan untuk mengurangi atau membalikkan pemanasan lebih lanjut atau untuk beradaptasi terhadap konsekwensi-konsekwensi yang ada. Sebagian besar pemerintahan negara-negara di dunia telah menandatangani dan meratifikasi Protokol Kyoto, yang mengarah pada pengurangan emisi gas-gas rumah kaca.
Daftar isi
[sembunyikan]
1 Penyebab pemanasan global
1.1 Efek rumah kaca
1.2 Efek umpan balik
1.3 Variasi Matahari
2 Mengukur pemanasan global
3 Model iklim
4 Dampak pemanasan global
4.1 Cuaca
4.2 Tinggi muka laut
4.3 Pertanian
4.4 Hewan dan tumbuhan
4.5 Kesehatan manusia
5 Perdebatan tentang pemanasan global
6 Pengendalian pemanasan global
6.1 Menghilangkan karbon
6.2 Persetujuan internasional
7 Lihat pula
8 Referensi
9 Pranala Luar
[sunting] Penyebab pemanasan global
[sunting] Efek rumah kaca
Artikel utama: Efek rumah kaca
Segala sumber energi yang terdapat di Bumi berasal dari Matahari. Sebagian besar energi tersebut dalam bentuk radiasi gelombang pendek, termasuk cahaya tampak. Ketika energi ini mengenai permukaan Bumi, ia berubah dari cahaya menjadi panas yang menghangatkan Bumi. Permukaan Bumi, akan menyerap sebagian panas dan memantulkan kembali sisanya. Sebagian dari panas ini sebagai radiasi infra merah gelombang panjang ke angkasa luar. Namun sebagian panas tetap terperangkap di atmosfer bumi akibat menumpuknya jumlah gas rumah kaca antara lain uap air, karbondioksida, dan metana yang menjadi perangkap gelombang radiasi ini. Gas-gas ini menyerap dan memantulkan kembali radiasi gelombang yang dipancarkan Bumi dan akibatnya panas tersebut akan tersimpan di permukaan Bumi. Hal tersebut terjadi berulang-ulang dan mengakibatkan suhu rata-rata tahunan bumi terus meningkat.
Gas-gas tersebut berfungsi sebagaimana kaca dalam rumah kaca. Dengan semakin meningkatnya konsentrasi gas-gas ini di atmosfer, semakin banyak panas yang terperangkap di bawahnya.
Sebenarnya, efek rumah kaca ini sangat dibutuhkan oleh segala makhluk hidup yang ada di bumi, karena tanpanya, planet ini akan menjadi sangat dingin (mencapai -180 C)[3] sehingga es akan menutupi seluruh permukaan Bumi. Akan tetapi, akibat jumlah gas-gas tersebut telah berlebih di atmosfer, pemanasan global menjadi akibatnya.




CKNOWLEDMENTS:
Farhan Supangkat, Rizki Aziz, Yuliati Heliana Pangow , rekan – rekan mahasiswa Program Magister Teknik Lingkungan ITB Angkatan 2002


PENIPISAN LAPISAN OZON
OLEH :
Andria Sukowati
Sub Bidang Pengendalian Pencemaran Udara
Email :
Sebab-sebab Penipisan Lapisan Ozon

Lapisan ozon menunjukkan adanya ozon di atmosfer. Stratosfer merupakan lapisan luar atmosfer dan terpisah dari troposfer (lapisan bawah) oleh tropopause. Karakteristik penting dari atmosfer adalah bahwa diseluruh troposfer, udara menjadi lebih dingin dengan semakin jauhnya jarak dari permukaan bumi. Gradien suhu ini berubah di tropopouse, dimana lapisan terbawah stratosfer lebih hangat dari daripada tingkat tertinggi troposfer. Kepentingan hubungan thermal ini adalah bahwa terdapat suatu lapisan lingkungan udara hangat diatas lapisan udara dingin. Karena udara panas naik, maka ada sedikit campuran udara di semua inversi suhu ini. Jika polutan masuk kedalam stratosfer, maka mereka cenderung tetap ada disana, sebagaimana mereka ada diatas hujan dan mekanisme-mekanisme lainnya yang dapat mengeluarkannya dari atmosfer. Gambar 6.1 memuat suatu diagram atmosfer, yang tidak di tarik menurut skalanya. Jika ditarik menurut skalanya maka tebal garis yang digunakan akan menutupi permukaan bumi.
Polutan yang paling merugikan mempengaruhi lapisan ozon adalah fluorocarbon, terutama yang mengandung chlorida/bromida. Bahan yang paling bertanggung jawab terhadap penipisan sebagian besar lapisan ozon adalah yang mengandung chlorida yaitu chlorofluorocarbon/CFC.
Bahan kimia ini menipiskan lapisan ozon dengan bertindak sebagai katalis dalam suatu reaksi kimia yang merubah ozon (O3dan O1) menjadi oksigen (O2). Reaksi ini dipercepat dengan adanya kristal-kristal es di stratosfer yang merupakan salah satu dari sumber bagi kerugian besar ozon di Antartic( kehilangan sebesar 50-60%). Karena CFC bertindak sebagai katalis, maka mereka tidak dikonsumsi dalam reaksi yang merubah ozon menjadi oksigen, tetapi tetap ada di stratosfer dan terus menerus merusak ozon selama bertahun-tahun.

Akibat-akibat Penipisan Lapisan Ozon

Ozon di atmosfer bawah menyebabkan banyak kerugian berupa gangguan kesehatan, ekologi, dan pertanian. Berdasarkan hal itu bisa saja ada keheranan terhadap mengapa terdapat begitu banyak tanggapan tentang penipisan ozon stratosferik.
Perlu diketahui bahwa sementara ozon di atmosfer bawah yang menyebab kan kerusakan di atmosfer atas pendekatan ekonomi yang intensif Peter Bohm mengutarakan untuk menggunakan sistem deposit pembayaran kembali sebagai ganti penggunaan CFCs pada lemari es. Para ekonom lain berargumen bahwa CFCs mewakili masalah polusi udara, sehingga penggunaannya harus dilarang. Karena itu sebaiknya penggunaan CFCs harus diganti, sehingga eliminasi emisi relatif lebih rendah daripada kerusakan akibat emisi. Sebagai contoh penggantian CFCs harus dilakukan pada deodoran spray, sebagai bahan bakar, pada stick deodorant dan roll-on deodorant.
Gambar 6.2 adalah grafik nilai marginal pengurangan dan marginal kerusakann yang berhubungan dengan posisi harga dan keuntungan bagi emisi CFCs akibat penggunaan alat-alat semprot.
Jika biaya-biaya abatement yang disebabkan oleh tersedianya substitusi itu rendah, maka ini merupakan suatu kasus dimana tingkat emisi yang optimal dapat dicapai dengan insentif-insentif ekonomi.
Pada tahun 1970an dan 1980an tidak terlihat tingkat optimal emisi CFCs dari sumber lain (pelarut, pabrik, AC, kulkas) atau sama dengan nol. Tetapi salah satu hal yang menjadi semakin jelas adalah bahwa kebijakan tentang penipisan lapisan ozon tidak dapat dikembangkan lebih lanjut di USA saja. Karena penipisan lapisan ozon ini merupakan masalah global maka emisi-emisi CFCs dari negara-negara lain justru sama pentingnya dengan emisi-emisi di USA. Oleh karena itu kebijakan yang efektif harus dibuat dalam konteks kesepakatan internasional.
Penemuan lubang pada lapisan ozon diatas Antartic memacu penandatanganan kesepakatan internasional tentang bahan-bahan kimia yang mengikis lapisan ozon. Kesepakatan ini didasarkan atas keyakinan yang ditanggung bersama secara internasional bahwa emisi-emisi CFCs dan bahan-bahan lainnya menimbulkan kerugian lebih jauh secara berlebihan dari harga abatement , dengan tingkat optimal emisi harus sama dengan nol.
Tahun 1990 Montreal Protocol tentang bahan-bahan yang mengikis lapisan ozon ditandatangani, kesepakatan internasional ini menghendaki penghentian emisi CFCs pada tahun 2000 di negara-negara maju dan 2010 pada negara berkembang.
Penemuan-penemuan terakhir tentang parahnya masalah-masalah penipisan lapisan ozon telah membangkitkan dukungan untuk menegosiasikan Monteral Protocol agar memiliki batas waktu yang lebih cepat. Dupont Company, perusahaan terbesar didunia di bidang CFCs telah berkeinginan mengakhiri penjualan CFCs ke negara-negara maju tahun 1996. Kebijakan masa depan meliputi suatu penentuan tentang bagaimana secepatnya larangan CFCs ini dilakukan. Tapi sayang bahan-bahan lain yang ikut menipiskan ozon tidak diperhatikan..



Gas Rumah Kaca dan Iklim Global

Pemanasan global berhubungan dengan akumulasi berbagai gas yang ada di atmosfer. Gas-gas tersebut adalah carbon dioksida, methane, nitrogen oksida dan uap air, radiasi infra merah pada kondisi normal akan terhalang masuk ke bumi. Fenomena ini analog dengan rumah kaca buatan, karena kaca akan menghalangi masuknya sinar, tetapi penutupan permukaan tersebut dapat menimbulkan panas. Walaupun demikian , analog rumah kaca tersebut tidak dapat melukiskan apa yang sesungguhnya terjadi diatmosfer, seperti penyerpan panas diatmosfer. Gas rumah kaca yang ada saat ini di atmosfer bumi dan tidak adanya gas rumah kaca di bulan menyebabkan perbedaan temperatur antara di bumi dengan di bulan, walaupun jarak rata-rata ka matahari diantara keduanya adalah sama. Konsentrasi gas rumah kaca yang sangat tinggi di Venus dan tidak adanya gas rumah kaca di Mars juga menyebabkan perbedaan temperatur di Venus, Mars dan bumi.
Temperatur di bumi (di permukaan dan diatmosfer) selalu bergerak ke arah equilibrium. Jika equilibrium tidak tercapai antara jumlah panas yang masuk ke atmosfer dan yang meninggalkan atmosfer maka bumi akan selalu panas atau selalu dingin. Masuknya gas rumah kaca yang masuk ke atmosfer bumi berpengaruh terhadap keseimbangan (eqilibrium), karena molekul-molekul gas menyerap panas. Temperatur di permukaan bumi dan diatmosfer terus bertambah sampai mencapai keseimbangan baru. Jumlah panas yang masuk dan meninggalkan atmosfer tidak berubah, tetapi jumlah panas yang tersimpan di bumi dan diatmosfer terus meningkat. Kapasitas penyerapan panas diketahui dengan kekuatan radiasi dari gas tersebut. Jika gas rumah kaca berkurang maka kekuatan radiasi juga berkurang dan keseimbangan baru juga terbentuk pada suhu yang lebih rendah.
Perdebatan tentang pemanasan global seputar sumber emisi antropogenik dari gas-gas rumah kaca yang secara signifikan meningkatkan temperatur global, berbeda dengan suhu dari sumber-sumber alamiah.
Uap air penting sebagai gas rumah kaca di atmosfer bumi, kandungannya kira-kira 1% dari total gas. Karbon dioksida memiliki konsentrasi rata-rata 0,04%. Gas rumah kaca yang lain adalah methan, nitrogen oksida dan chloroflourcarbons (CFC-11 dan CFC-12). Gas-gas tersebut merupakan emisi antropogenik kecuali uap air.

Sumber-Sumber Gas Rumah Kaca

Gas rumah kaca dari emisi antropogenik berasal dari beberapa sumber. Untuk memahami emisi carbon dioksida yang penting bagi gas rumah kaca perlu memahami siklus karbon.
Siklus carbon menggambarkan pergerakan carbon dari atmosfer ke permukaan bumi. Di permukaan bumi, carbon disimpan dalam biomass pada setiap organisme. Carbon diokesida juga larut dalam air permukaan, hal ini juga terjadi pada laut. Carbon dioksida terkumpul sebagai carbon ketika tanaman tumbuh, dan carbon dioksida terkumpul sebagai carbon dalam jaringan tubuh tanaman. Contoh: sebuah tanaman kira-kira kira-kira mengandung carbon sebanyak 50% dari berat. Ketika hewan memakan tanaman, carbon tertransfer dari biomass tanaman menjadi biomass pada hewan. Ketika tanaman atau hewan mati, mereka akan terurai dimana kombinasi antara carbon dengan denganoksigen akan membentuk carbon dioksida, dimana CO2 akan kembali ke atmosfer, CO2 diserap pada tumbuhan baru berkembang.
Aktivitas antropogenik, seperti pembakaran bahan bakar atau hutan mempengaruhi keseimbangan siklus karbon, dan menyebabkan bertambahnya CO2 di atmosfer. Bahan bakar fosil, seperti minyak bumi, batu bara dan gas alam berasal dari sisa fosil tanaman pada zaman pra sejarah. Bahan bakar tersebut menggambarkan kandungan karbon, dan pembakarannya mningkatkan kandungan CO2 diatmosfer. Begitupula ketika hutan di tebangi, tak terkecuali kandungan carbon yang terdapat pada produk kayu (furniture, kertas dll) akhirnya terbagi-bagi dan carbon dilepaskan ke atmosfer sebagai CO2. Kurang lebih 50% dari biomass pada tanaman menjadi kandungan dalam kayu atau produknya, perusakan hutan berupa penebangan dan pembakaran, maka semua carbon berubah menjadi CO2 dan efek rumah kaca semakin nyata. Ketika hutan ditanami kembali, CO2 diambil/dimanfaatkan kembali dari atmosfer. Implikasi ini merupakan tantangan yang signifikan bagi lingkungan dalam penggunaan bahan bakar biomass. Contohnya: jika membakar ethanol (yang dihasilkan oleh kayu atau sawah) daripada bensin, ini akan mereduksi secara signifikan emisi CO2. Walaupun pembakaran bahan bakar melepaskan CO2, pembakaran bensin menggambarkan pelepasan kandungan karbon. Saat pembakaran ethanol dari tanaman mempresentasikan siklus karbon. Walaupun hutan alam yang dewasa terdiri dari biomass yang lebih banyak per acre dibandingkan dengan hutan yang baru ditanami. Konversi dari hutan alam dewasa menjadi “energy plantation” disimpulkan dapat meningkatkan CO2 di atmosfer.
Penanaman hutan baru dapat mereduksi CO2 di atmosfer. Proses ini disebut dengan proses berkelanjutan dari carbon.
Methane (CH4) dihasilkan dari berbagai sumber alamiah dan antropogenik. Sumber alamiah termasuk wetlands, dan areal lainnya, dimana pembusukan bahan organik terjadi secara anaerob. Sumber antropogenik termasuk dari hewan yang mema,mah biak, emisi dari batubara dan minyak serta sumur gas alam. Peningkatan konsentrasi gas methan di atmosfer memungkinkan terjadinya perubahan kimia atmosfer.
Nitrogen oksigen (N2O) berasal dari pembakaran bahan bakar fosil dan biomass, selain itu dihasilkan pula dari penyubur tanah.
Sumber chloroflourcarbons (CFCs) dan ozon depletion dibahas sebelumnya. Berkaitan dengan CFCs dan ozon, yang termasuk sumber penghasilnya adalah refigerator, AC dan pembuatan foam dan solvent.


Apakah Temperatur Global Meningkat ?

Pertanyaan tentang peningkatan iklim global merupakan pertanyaan yang kontroversial, karena tidak dapat dijawab semata-mata hanya berdasarkan data yang tercatat saja.
Hal ini dirasakan sulit untuk menyimpulkan data temperatur yang tercatat pada stasiun metereologi sejak abad ke 19. Alasannya adalah bahwa stasiun pemantau cuaca berlokasi di sekitar bumi bagian utara yang sebagian besar adalah laut. Sejak efek dari global warming dirasakan pada beberapa lokasi, sehingga dirasakan sangat penting untuk memasang alat pengukur suhu dibeberapa tempat. Badan meteorologi di kota-kota mempublikasikan peningkatan radiasi suhu di wilayah urban. Sebagai indikator dalan efek rumah kaca adalah peningkatan suhu pada daerah urban. Berdasarkan hasil konsensus bersama, menyatakan bahwa pemanasan sekitar 0,5oC disebabkan oleh emisi CO2 pada 100 tahun yang lalu, sehingga dirasakan sangat berpengaruh terhadap efek global warming.
model tentang iklim sering digunakan untuk memprediksi implikasi dari emisi gas rumah kaca. Prediksi ditekankan pada pemanasan akibat akumulasi emisi CO2 di atmosfer (dikenal dengan CO2-fertilizer effect). Carbon dilepaskan ke atmosfer baik didarat maupun di laut , dimana hal ini dapat meningkatkan efek rumah kaca dan berdampak pada global warming. Walaupun demikian para ahli belum mengetahui secara pasti role dari pelepasan carbon. Ada satu asumsi yang menyatakan bahwa efek terus menerus dan emisi CO2 dapat merusak terhadap fungsi pelepasan carbon. Untuk saat ini kapasitas pelepasan sampai dengan penyerapan karbon tidak diketahui.
Aktivitas antropogenik yang lain mungkin dapat meningkatkan efek dari global warming. Emisi dari partikulat, seperti aerosol sulfate (aerosol adalah partikulat yang sangat halus dari dari pada partikulat suspended di atmosfer). dapat menghalangi sinar matahari, dimana ini sangat berdampak pada pendinginan permukaan.
Keraguan tentang pendapat yang berkaitan dengan waktu pemanasan dan emisi carbon masih merupakan pertentangan. Kemungkinan peningkatan suhu dimulai sejak tahun 1940-an.
Salah satu studi tentang global warming dilakukan oleh National Research Councils Board of Atmosferic Science and Climete, dimana memprediksi (berdasarkan peningkatan duakali lipat CO2 di atmosfer) pemanasan mencapai (1,5-4,5) oC (NAS, 1991). Schneider (1991) memperdalam tentang prediksi perubahan iklim global dan predikasi keberadaannya. Schneider percaya bahwa prediksi global sangat kuat tetapi bagaimana terjadinya perubahan akan terdistribusi secara regional.
Studi lanjut oleh Wigley dan Rapier mengadopsi dugaan efek pemanasan. Mereka memprediksi pemanasan dari tahun 1990 sampai 2100 dengan peningkatan CO2 di atmosfer duakalinya akan meningkatkan suhu antara (1,7-3,8)oC. Prediksi ini berada diantara prediksi yang dilakukan oleh National Research Council, tetapi batas bawahnya lebih tinggi. Perbedaan utama dari ke dua studi ini adalah dalam studi yang dilakukan oleh Wigley dan Rapier menghitung juga total carbon yang bergabung dengan CO2 fertilization dari tanaman sedangkan dalam penelitian National Research Council tidak memasukkannya. Hal ini menjelaskan bahwa begitu banyak konsentrasi CO2 yang tidak terdeteksi jumlahnya.



Perubahan Lingkungan Global

Walaupun efek peningkaatan CO2 positif bagi tanaman, hal ini tidak Berarti peningkatanm jumlah panenan.Alasannya adalah tidak hanya pertumbuhan tanaman pangan yang meningkat dengan bertambahnya CO2, tetapi juga pertumbuhan tanaman pesaing (gulma). Percobaan terkendali yang mengukur respon pertumbuhan terhadap CO2 tidak menampilkan data efek yang berhubungan antara tanaman pangan terhadap gulma .Juga peningkatan suhu dan presipitasi mungkin meningkatkan populasi binatang penganggu, yang akan mempunyai efek negative pada panenan.
Contoh lain dari keadaan tidak sengaja kedua efek positive dan negative adalah pada rasa nyaman orang. Orang akan merasa kurang nyaman pada musim panas bukan hanya karena peningkatan suhu , tetapi karena jumlah dari lamanya gelombang panas yang diperkirakan akan meningkat. Meskipun demikian orang akan lebih nyaman opada musim dingin.Pemanasan global meningkatkan kebutuhan AC, tetapi menurunkan kebutuhan pemanas rumah.
Naiknya permukaan laut murni negative, dengan tanpa satupun efek posotif yang ada. Maka laut menyebabkan kehilangan pesisir walau kenaikan muka laut (10-100 cm) jauh berkurang daripada kenaikan sebesar 3 m yang diprediksikan 10 tahun yang lalu. Kominasi kenaikan muka laut dan peningkatan intensitas badai yang diprediksi berhubungan dengan pemanasan global akan menyebabkan kehilangan pesisir karena erosi, yang berarti kehilangan bangunan, pantai dan habitat rawa.

Konsekuensi Ekonomi dari Pemanasan Global

Banyak konsekuensi ekonomi dari pemanasan global yang diramalkan dengan kemampuan adaptasi terhadap perubahan iklim, sejak efek perubahan iklim terjadi bertahap melewati lebih dari kurun waktu 100 tahun. Contohnya, ketika muka laut naik, bangunan terdekat dengan pantai dapat didepresiasi dan bangunan baru dapat dibangun lebih jauh ke darat. Pilihannya, bendungan atau tembok pantai dapat dibangun mengitari seluruh pulau. Seperti, strategi adaptif dalam pertanian. Lebih banyak tanaman jenis yang tahan panas dapat dikembangkan, dan tanaman lain dapt ditanam. Bila sebagian daerah menjadi tidak layak untuk pertanian, maka kegiatan pertanian dapat pindah ke daerah yang lebih cocok.
Strategi yang sama berlaku pada kehutanan.Jika iklim berubah maka spesies sebagian hutan tidak lagi sesuai untuk temperatur dan pola hujan, pohon dapat dipanen lebih awal dan lebih banyak spesies yang dapat ditanam. Meskipun panen dini dapat mengarah pada kehilangan keuntungan, tampaknya menjadi relative lebih kecil dibandingkan dengan keuntungan total.
Beberapa studi diusakan untuk menghitung secara langsung efek pemanasan global dengan GDP atau pendapatan nasional. Contoh Nordhaus (1991) memperkirakan dampak tahunan dari peningkatan dua kali lipat CO2 atmsoferik terhadap perekonomian Amerika. Dia menemukan bahwa perkiraan rata-rata mendekati 6.2 miyar dollar (1981), yang merupakan 0.26 % pendapatan nasional. Penguraian sektoral dampak ini terdaftar pada tabel 6.3. Cline memprediksi dampak yang lebih besar yaitu 2 % pendapatan nasional, tapi hasil yang diperolehnya termasuk definisi dampak yang lebih luas, termasuk dampak non-pasar, mereka akan kira-kira konsisten dengan pekerjaan Cline.
Meskipun diskusi di atas dapat diinterpretasikan menerapkan konsekuensi pemanasan global tidak berat, keadaan ini sebaiknya tidak dibuat untuk berbagai alasan, termasuk pembatasan kemampuan adaptasi terhadap perubahan iklim dan kemungkinan „kejutan“. Seperti diperagakan di bawah, konsekuensi pemanasan global dapat lebih berat daripada pendapat yang diberikan.


Faktor-Faktor yang Mungkin Membuat Konsekuensi Ekonomi Pemanasan Global Lebih Berat

Diskusi sebelumnya menyarankan bahwa konsekuensi pemanasan global mungkin bisa diringankan dengan kemampuan adaptasi. Walaupun, sebab kerapatan populasi yang lebih besar, kurangnya akses terhadap teknologi baru, kepercayaan yang lebih besar terhadap produksi primer ( pertanian, kehutanan, dan lainnya) dan pengaruh luar lainnya, kemungkinan untuk adaptasi mungkin secara substantif kurang keberadaannya di negara berkembang.
Satu bagian aspek pemanasan global yang kelihatannya cukup mahal adalah efek kenaikan muka air laut pada Negara Dunia Ketiga. Banyak negara pulau mungkin kebanjiran secara penuh dibawah skenario kenaikan muka laut yang masuk akal. Tambahan pula, beberapa area dateran rendah yang padat penduduk , seperti delta sungai Bangladesh dan Mesir ( dihuni 10 juta orang) mungkin akan seluruhnya berada di bawah permukaan air. Cost bagi orang atas kehilangan tanah dan rumah akan menjadi sangat besar, sebagian karena disana adalah tanah yang sempit di negara Banglades dan Mesir. Negara berkembang sebagian tidak dapat menerima pengungsi dari negara dunia ketiga pada beberapa puluh tahun yang lalu, dengan berkembangnya isu kenaikan muka laut pengungsian akan terjadi. Penderitaan dari pengungsi nanti, efek penurunan kestabilan politik pada negara yang terkena dan tetangganya, dan cost relokasi pengungsi dapat menjadi biaya utama yang berhubungan dengan pemanasan global.
Hal lain yang adaptasinya sepertinya tidak mendapat pengurangan yang penting adalah sistem alam. Sementara langkah perubahan iklim global relativ lambat bagi standar manusia, itu sangat cepat bagi standar alam. Contoh, ketika suhu global berubah di Amerika Utara ( kemajuan glacier dan mundurnya), hutan berubah. Ketika suhu meningkat, hutan pinus di Selatan bergeser ke Utara dan ketika temperatur turun hutan tanaman keras di Utara berpindah secara bertahap ke Selatan. Perbahan ini dapat tergantikan karena perubahan temperatur relatif lebih lambat dibandignkan dengan tingkat pertumbuhan hutan. Binatang juga berpindah ke zona habitat dan ikilm yang lebih mereka pilih.
Perubahan iklim berhubungan dengan efek rumah kaca yang relatif lebih cepat. Efek utama akan tergantikan dalam masa hidup satu individu pohon. Hal ini langkah yang terlalu cepat bagi hutan untuk melakukan seleksi alamiah. Lagipula, migrasi spesies tanaman dan hewan dihalangi oleh jalan, tanah pertanian, kota, dan desa. Spesies yang tidak beruntung dengan pergantian iklim mungkin akan menghilang sebagaimana kemampuan mereka untuk menyesuaikan terhambat oleh penghalang.
Jesse Ausabel berpendapat bahwa kerusakan paling signifikan dari pemanasan global mungkin berada pada kerusakan sistem alami, terutama sistem alam yang mendapat tekanan dari interkasi terhadap sistem manusia. Sumber daya air merupakan contoh utama. Pemanasan global mungkin akan mengarah pada pengeringan California Selatan dengan berkurangnya hujan dan dari pengurangan salju musim dingin di pegunungan karena peningkatan temperatur. Sistem tata air di California Selatan sudah tertekan dengan pengambilan dan eksploitasi berlebihan. Stres selanjutnya dapat mengarah pada kerusakan yang menimpakan implikasi pada jutaan orang.

Pentingnya Kejutan

Salah satu alasan untuk menghindari sikap optimis tentang konsekuensi potensial perubahan iklim global adalah konsekuensi yang tidak terprediksi. Kejutan ini dapat datang kepada kita sebagai jawaban dari keberadaan yang mungkin dari efek awal.
Ada dua tipe permulaan dengan respek terhadap emisi pencemar. Tipe pertama adalah permulaan bila emisi tidak menimbulkan kerusakan sampai awal dilampaui dan kerusakan dimulai. Tipe kedua adalah awal dimana perubahan batas pada emisi mengarah kepada pertumbuhan kerusakan yang sedikit sampai peningkatan kerusakan yang sangat besar. Adalah yang terakhir yang mungkin relevan dengan pemanasan global, meskipun tipe yang pertama penting dalam beberapa situasi.
Satu contoh untuk type ambang yang terakhir adalah jika pemanasan global berjalan sampai pada titik dimana daerah tundra mencair. Bila hal ini terjadi, penguraian organic secara anaerobic akan melepaskan metana yang , yang akan menambah intensifikasi pemanasan global.
Kemungkinan kedua akan muncul jika temperature berubah menjadi cukup kuat untuk melelehkan es penutup kutub . Tidak hanya akan menjadi peningkatan muka laut , tapi juga tenggelamnya es akan mengurangi jumlah cahaya yang direfleksikan dari bumi. Pengurangan refleksi akan menjadi peningkatan absorpsi panas yang dapat meningkatkan pemanasan global.
Baik pelelehan tundra dan tenggelamnya puncak es di kutub dapat diklasifikasikan sebagai umpan balik positif. Umpan balik positif Berarti efek tidak langsung dari perubahan yang menintensifkan efek langsung perubahan.
Tipe lain dari efek ambang dibicarakan oleh Gore, akan muncul bila iklim berubah akamn merubah arus laut. Jika arus teluk berhenti mengalir dan memindahkan air hangat di Selatan ke daerah yang lebih dingin di Utara, sebagian besar Eropa akan mengalami suhu yang lebih dingin daripada tempat lain pada daerah lintang Utara yang sama. Contohnya, iklim di Inggris, akan lebih mirip dengan Newfoundland, dengan kemungkinan periode panjang tutupan es di Atalantik, Laut Utara, dan pelabuhan-pelabuhan laut Norwegia.
Efek ambang dari tipe pertama ( tidak ada kerusakan sampai batas tertentu terlampaui) mungkin akan muncul dalam contoh sebuah lingkungan green house. Sebagai contoh, pemanasan global mungkin meningkatkan suhu musim panas pada beberapa daerah dealam beberapa derajat. Hal ini dengan sendirinya merupakan efek yang berbahaya bagi pohon dan tanaman lain. Meskipun, penambahan sedikit rata-rata temperatur mungkin dihubungkan dengan peningkatan panjang atau frekuensi datangnya musim panas, yang akan menyebabkan stress dan mematikan tanaman yang sensitif terhadap panas.

Kebijakan Pemanasan Global

Ada banyak karakteristik masalah pemanasan global yang membuatnya secara substantif berbeda dengan masalah lingkungan lainnya. Hal ini
temasuk :
2.Perlunya kesepakatan dengan banyak polutan berbeda ( semua gas rumah kaca) secara simultan
3.Pemisahan sementara antara emisi dan kerusakan
4.Ketidakpastian tingkat tinggi berada pada baik pengertian secara kelimuan atau dampak fisik dan pengertian ekonomis tentang cost dan benefit.
5.Kepentingan relative dari isu yang setara, baik lintas generasi dan lintas Negara.
6.Kebutuhan untuk mencapai kerjasama internasional.

Keterkaitan dengan Banyak Polutan yang Berlainan

Walaupun penyebab utama efek rumah kaca adalah CO2, kebijakan tidak harus hanya focus kepada CO2. Sebagai contoh, adalah lebih murah untuk memperhatikan konsentrat pada penurunan emisi CFC ( terutama karena masalah penipisan ozon) tau emisi metana. Pada batasny, orang ingin mengurangi gas rumah kaca yang paling rendah biayanya untuk dikurangi. Walaupun, orang dapat melihat pada biaya penurunan emisi 1 kg CO2 dibandingkan dengan biaya mereduksi N2O atau CFC-11 atau CH4. Alasan untuk ini adalah setiap gas rumah kaca mempunyai tingkat kekuatan radioaktif yang berbeda. Dan setiap gas rumah kaca mempunyai umur di amtomsfer.
Dalam rangka mencoba mengukur ekivalen dari gas-gas rumah kaca yang berbeda, IPCC ( Intergoverment Panel on Climate Change) mngembangkan konsep global warming potential index (GWPI). Konsep ini dengan GWPI adalah membandingkan daya radiasi pada waktu hidup atmosferik suatu gas dengan daya radiasi untuk 1 kilogram CO2 sebagai patokan. Perbandingan ini dalam bentuk rasio dimana CO2 sebagai denominator. Didefinisikan GWPI CO2 sama dengan 1. Potensi pemanasan global oleh gas rumah kaca berkurang karena meluruhnya gas di atmosfer. Gambar 6.3 memperlihatkan waktu tempuh gas rumah kaca yang hipotetis. Gas ini lebih mudah penggambarannya dibanding yang lain, dan membutuhkan pembicaraan tentang kimia atmosfer. Total gas potensi pemanasan global digambar berada dibawah garis waktu tempuh (integral waktu tempuh). Indek potensi pemanasan global suatu gas hipotetis sama dengan integral waktu tempuh untuk suatu gas dibagi dengan integral waktu tempuh CO2.
Penggunaan indeks yang berdasarkan integral masih diperdebatkan, saat indeks ini dipakai untuk suatu daya radiasi pada titik waktu tertentu ia akan identik dengan daya radiasi pada titik waktu lainnya. Karena gas-gas yang berbeda memiliki ukuran waktu tempuh yang berbeda maka penentuan waktu menjadi penting. Bahkan saat tingkat social discount sama dengan nol, pengukuran waktu menjadi sangat penting.
Sebagai contoh, setiap satu kilogram methan berkaitan dengan efek panas yang lebih tinggi daripada CO2, tapi CO2 berada di atmosfer lebih lama. Dampak pemanasan global adalah fungsi dari kemampuan menentukan perubahan, semakin panas maka akan semakin banyak kerusakannya. Dua gas mungkin punya total daya radiasi yang sama tapi mempunyai waktu tempuh yang berbeda.
Pada gambar 6.4 Gas A adalah gas dengan waktu hidup lebih singkat dengan efek panas yang kuat, seperti methan. Sedangkan gas B adalah gas dengan efek panas yang lemah. Meskipun memiliki total potensi panas yang sama, panas gas A terjadi lebih awal dan menghasilkan kerusakan yang lebih luas dibanding gas B. Indeks potensi pemanasan global tidak bisa menentukan ekivalensi antar semua gas rumah kaca, karena kesukan yang ditimbulkan tidak sama tetapi hanya total panas yang sama sepanjang waktunya.
Pembagian kerusakan yang terkait dengan tingkat pemanasan global yang telah ditetapkan merupakan fungsi waktu saat pemanasan terjadi dan kerapatan pemanasan global, ini masih butuh pembicaraan lebih lanjut. Ketergantungan waktu dan kerusakan yang ditimbulkan dipengaruhi oleh faktor: pertumbuhan penduduk, perkembangan teknologi, perubahan dan pertumbuhan ekonomi, perubahan nilai dan gaya hidup. Tingkat pemanasan global suatu negara terkait dengan tingkat kerusakan yang berbeda dengan tingkat permanasan global di negara yang berbeda. Kesukan juga berupa fungsi kecepatan saat pemanasan global terjadi, karena kemampuan untuk beradaptasi tergantung padanya.
Meskipun indeks potensi pemanasan global dibuat untuk mengukur efek relatif gas-gas rumah kaca yang berbeda, tapi tidaklah terkait dengan penentuan waktu karena tidak ditujukan untuk mengukur kerusakan sosial akibat emisi.
Indeks ini dinyatakan sebagai perkiraan efek rumah kaca relatif untuk gas-gas yang berbeda. Saat ini belum saatnya untuk menggunakan sistem komputasi terintegrasi pajak atau mengizinkan penggunaan gas rumah kaca.
Bagaimanapun sejak GWPI memberikan indikasi relatif gas-gas berbda yang penting, tabel 6.4 berisi 1992 GWPI untuk gas rumah kaca utama.
Tiga perbedaan ditampilkan pada table 6.4. Mereka untuk 50,100,dan 500 tahun, ketika jumlah tahun sesuai dengan periode waktu dengan total kekuatan radiokatif dijumlahkan. Contohnya, jika total kekuatan radiasi 50 tahun, setiap kilogram methane mempunyai 20 tahun dampak pemanasan . Bila dampak diukur melebihi 500 tahun, index yang sesuai adalah 4. Perhatikan bahwa pemanasan glonal relative berkaitan dengan gas peluruh ozon ( CFC, HFCFC, HFC,CCl4). Juga perhatikan bahwa GWPI sebuah gas meningkat sejalan dengan waktu, gas tersebut mempunyai waktu hidup yang lebih lama dibanding CO2. Jika GWPI turun dengan meingkatnya pertambahan waktu, waktu hidup gas di atmosfer lebih rendah dari CO2.

Konvensi Perubahan Iklim

Pada Mei dan Juni 1992, sejumlah pertemuan global tentang lingkungan dilakukan di Rio de Jainero yang dikenal dengan Rio Summit. Diantara hasilnya adalah perstujuan internasional tentang perubahan iklim global disebut Konvensi Perubahan Iklim yang salah satu penenda tangannya adalah USA. Keputusan utama konvensi ini adalah kesepakatan penstabilan emisi pada level 1990 dengan target pelaksanaan pada masing-masing negara. US tidak menetapkan batas waktu pelaksanaan meskipun negara berkembang menetapkan untuk tahun 2000. Fakta-fakta penting tentang kesepakatan ini: pertama, pembentukan Konferensi Peserta (COP=Conference of Parties) sebagai badan tempat melaporkan rencana pengurangan emisi gas rumah kaca. Kedua, peralatan untuk mengurangi gas rumah kaca akan dikembangkan di semua negara. Ketiga, ketidaktentuan ilmiah tidak sebagai alasan untuk mengurangi rencana emisi, yang butuh diskusi lebih lanjut. Konvensi ini tidak lah mengabaikan ketidaktentuan ilmiah ini tapi kebijakan harus dikembangkan pada hal ini di masa mendatang. Ini hal yang penting karena semakin lama masa hidup CO2 di atmosfer dan gas rumah kaca serta perubahan dasar akibat pemanasan global menyebabkan perubahan lingkungan yang tidahk terbalikan. Hal ini harus menjadi perhatian dalam menghadapi ketidaktentuan dan kesalahan dalam penurunan emisi. Penurunan emisi dengan drastis tidaklah terlalu penting, tapi usaha penurunan emisi terkait pemanasan global haruslah segera dilakukan untuk mengatasi segala permasalahan yang diperkirakan oleh para ahli. Jika dalam perkembangannya nanti permasalahan berkurang maka kita mengurangi batasan emisi. Sedangkan jika permasalahan semakin rumit maka kita harus mencegah gas-gas rumah kaca diemisikan ke atmosfer.
Walau konvensi ini menghasilkan tentang tingkat emisi tapi tidak berdasarkan pada pertimbangan cost dan benefit dibandingkan kepentingan politik peserta. Meskipun stabilisasi pada tingkat 1990 pada tahap awal, penurunan hingga di bawahnya kedepan dapat dijamin dan informasi terkini akan dibutuhkan sehingga usaha penurunan emisi akan lebih mudah.

Alat-alat Kebijakan untuk Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca

Alat ini diperlukan untuk memenuhi kondisi berikut:
Kerusakan yang sama akibat emisi untuk setiap gas rumah kaca.
Biaya abatement yang sama dalam usaha pengurangan kerusakan akibat setiap gas rumah kaca.
Biaya abatement sama untuk setiap penghasil polutan
Biaya pengurangan kerusakan akibat pemanasan global sebanding dengan kerusakan yang dikurangi.
Ini menjamin bahwa kita punya banyak kesempatan untuk menurunkan biaya dalam menghadapi pemanasan global. Tapi hal ini masih belum jadi perhatian kita dibandingkan dengan emisi SO2 yang disebabkan masih kurangnya kebijakan yang mendukung kondisi ini.
Kondisi 1 akan sulit dipenuhi karena masih kurangnya pengetahuan tentang ukuran kerusakan yang terjadi dan ketergantungannya akan waktu. Sama susahnya membuat indeks potensi pemanasan global. Untuk kondisi ke-2 juga begitu jika kita mengetahui efek rumah kaca terhadap kesejahteraan masyarakat kita akan sangat mudah untuk menetapkan pajak pencemaran atau izin pemasaran bahan bebas polusi. Dan penggunaan biaya tersebut akan menjamin terpenuhinya kondisi ke-3. Dan kondisi ke-4 tidak akan bisa terpenuhi jika kondisi-kondisi sebelumnya tidak terpenuhi.
Pengembangan kebijakan dalam pemanasan global yang efisien tergantung kepada pengetahuan yang lebih tentang fungsi kerusakan yang tidak sementara.
Meskipun efisiennya kebijakan tergantung pada informasi yang tersedia, bukan berarti kita tidak bisa berbuat sesuatupun sampai informasi didapatkan. Para ahli ekonomi berpendapat bahwa pengendalian emisi gas rumah kaca harus sesegera mungkin dilakukan karena kecendrungan fenomena tidak terbalikan dan luasnya kerusakan pemanasan global. Nordhaus (1991) membuat daftar beberapa kebijakan yang bisa dilakukan, yaitu:
1.Meningkatkan pengetahuan dan kepahaman kita tentang penyebab dan dampak pemanasan global, termasuk dampak ekonomi, sehingga kita dapat kebijakan yang cocok untuk diterapkan.
2.Melakukan penelitian untuk menemukan teknologi baru yang dapat mengurangi emisi gas rumah kaca, dulunya hal ini jarang dilakukan oleh investor karena keuntungan dari teknologi tersebut lebih sedikit dibandingkan jika hasil penelitian dimanfaatkan pihak lain yang tidak berinvestasi dalam hal ini, dan karena tidak adanya pengahargaan dari pasar bagi produk yang kurang emisi gas rumah kacanya.
3.Memulai kebijakan ‘no regret’, yaitu tidak ada penyesalan jika seandainya pemanasan global yang kita khawatirkan tidaklah terjadi seperti yang kita perkirakan.
Nordhaus mengatakan bahwa 3 langkah ini sudah cukup untuk dilakukan saat ini, tapi mungkin saja hal yang lebih buruk terjadi terkait dengan perubahan iklim. Jika ini terjadi maka sebaiknya diterapkan pajak bagi setiap emisi gas rumah kaca yang diekivalenkan dengan emisi CO2. Hal ini akan menyebabkan harga bahan bakar akan turun dan tidak menimbulkan efek yang luas, bahkan penetapan pajak ini akan memberikan keuntungan jaringan utnuk ekonomi global meskipun hanya keci sekali.
Jika kesepakatan internasional menuntut penngurangan emisi yang ketat, maka harus ada sejumlah izin dalam pemasaran harus ditetapkan. Hal ini didasarkan pada; izin pemasaran akan memungkinkan perdagangan antar negara untuk mendapatkan keuntungan yang berarti; Juga sebagai mekanisme kompensasi bagi negara berkembang yang ikut merreduksi emisi. Pemberian izin dibatasi pemberiannya kepada negara-negara dunia ketiga yang dapat menjualnya kepada negara berkembang dan negara berkembang aka mendapatkan biaya penyerapan karbon melalui reboisasi.

Kesimpulan

Pemanasan global dan pengikisan lapisan ozon merupakan masalah lingkungan yang penting yang berbeda dari masalah polusi konvensional karena jauhnya jarak waktu antara emisi dan dampaknya, masa hidup polutan yang lama di atmosfer, dan kompleksitas hubungan ilmiah membutuhkan pengembangan kebijakan untuk menjawab pertanyaan yang rumit.
Sebagai masayarakat global kita menghadapi bahaya pengikisan ozon oleh bahan kimia daibanding gas rumah kaca. Kesepakatan internasional menyerukan pelarangan penggunaan bahan kimia tertentu penyebab pengikisan ozon. Kesepakatan internasional tentang pemanasan global dengan tingakat emisi stabilisasi 1990 tidak menetapkan waktu berlakunya. Perbedaan pendekatan kesepakatan internasional ini dipengaruhi oleh hasil perkiraan dampak akibat pengikisan lapisan ozon lebih besar. Tapi meskipun keuntungan pengontrolan pemanasan global lebih kecil, tapi banyak pendapat yang menyarankan adanya kebijakan pengontrolan emisi gas rumah kaca sesegera mungkin.

arsitekture.hijau









Rabu, 26 Desember 2007 LAMPUNG POST

2008, Arsitektur Hijau Dominasi Desain Properti





PERUBAHAN iklim global masih menentukan arah perkembangan desain arsitektur pada tahun 2008, bahkan menjadi suatu kepedulian semua pihak, terutama para arsitek.
Dengan demikian, arsitektur hijau (green architecture) dengan ciri bangunan gedung atau kawasan berkonsep ramah lingkungan yang sering disebut green building atau green development diperkirakan berkembang. Hal ini salah satu bentuk partisipasi para arsitek dalam upaya perbaikan iklim, peningkatan kawasan yang nyaman (comfort zone), dan pelestarian lingkungan.
Dengan kata lain, arsitektur hijau dan semua hal yang mengedepankan sustainable architecture atau arsitektur yang berkelanjutan akan tetap mendominasi konsep arsitektur pada tahun depan dengan isu utama maksimalisasi penghijauan.
Arsitek dan desainer Samuel A. Budiono yang sekaligus merupakan presdir PT Samuel A. Budiono & Associates misalnya, membuat desain arsiterktur yang bersahabat dengan alam sekitarnya.
Karya arsitekturnya yang sangat memerhatikan lingkungan dengan tetap mempertahankan unsur kemodernannya antara lain bangunan agro-park yang terdapat di Pandaan, Jawa Timur. Desain arsitektur bangunan utama agro-park dibuat tinggi, bertiang seperti rumah tradisional di Kalimantan yang ditopang balok-balok kayu berdiri, sebagai bentuk desain arsitektur modern yang ekspresif dan melambangkan kebangkitan yang optimistis dari suatu kondisi apa pun yang dirasa negatif.
Samuel menegaskan desain arsitektur tahun depan lebih dinamis dengan bentuk yang progresif dan menekankan pada pengembangan sesuai dengan situasi sosial dan alam di sekitarnya . "Nanti desain arsitektur lebih dinamis di mana bentuk yang progresif dan yang menekankan pada movement akan lebih berbicara dan gaya minimalis yang statis mulai ditinggalkan," katanya.
Dia mengatakan aliran minimalis memang masih tetap eksis di sejumlah negara maju yang tingkat kesibukan warganya cukup tinggi. Tuntutan bentuk yang simplicity dalam desain arsitektur sangat sesuai dengan life style yang supersibuk.
Mengenai unsur fungsi, kepraktisan dan bahkan kepolosan dari bentuk arsitektur dianggap mewakili era masyarakat sibuk, dibanding dengan adanya keruwetan yang ditimbulkan suatu ornamen.
Namun, gaya minimalis tampaknya sekarang ini mulai mencapai titik jenuh, terutama disebabkan kelatahan banyak pihak yang penggunaan istilah minimalis pada hampir setiap desain arsitektur.
Hal senada juga diungkapkan peneliti Research Development Consultant Building & Construction Interchange (BCI) Asia Dian Putra yang mengatakan bangunan ramah lingkungan yang dilengkapi roof garden (taman di atap) sangat menguntungkan untuk jangka panjang. Keuntungan tersebut antara lain menekan dampak negatif dari pengaruh gas emisi rumah kaca, pemanasan global dan krisis energi.
"Dengan kesadarannya sendiri, banyak pengembang di negara maju membuat desain arsitektur yang ramah lingkungan atau green development yang sejalan dengan kebijakan Protokol Kyoto dalam upaya menekan dampak emisi gas rumah kaca hingga 5,2%," katanya.
Dian juga mengatakan realisasi green development itu tidak sebatas desainnya, tetapi mencakup banyak aspek, seperti pilihan material serta bagian depan dan belakang gedung yang sesuai dengan arah angin dan pergerakan matahari.
Materialnya, kata Dian, dihindari penggunaan kayu karena dapat memicu terjadinya penggundulan hutan, jenis kaca dipilih yang dapat mengatur masuknya sinar matahari untuk mengatur suhu udara dan cahaya dalam ruang agar penggunaan lampu dan air conditioner lebih efisien.
Lebih lanjut, Dian mengatakan perubahan kecenderungan arsitektur terjadi karena manusia pada dasarnya ingin suatu pergantian atau memengaruhi perubahan desain arsitektur tersebut. "Life style®MDBU¯ dan perubahan gaya hidup juga menentukan arah desain dan arsiterktur yang dianggap mengikuti suatu selera pada periodenya," katanya.n RUMAHKU.COM/E-2



Pertumbuhan pembangunan dikota-kota besar seperti Jakarta mengakibatkan jumlah ruang hijau semakin berkurang, tampak di setiap sudut kota bangunan-bangunan tinggi menjulang terutama di jalan protokol Thamrin-Sudirman, sedangkan didaerah pinggiran kota pembangunan perumahan real estate telah merubah bentuk bentang alam dan hanya menyisakan sedikit area tanah untuk ruang terbuka hijau dan itupun hanya untuk sekedar pertimbangan visual estetika.
Kerapatan dari bangunan dijakarta telah melewati dari pada ambang batas idealnya perbandingan antara ruang tidak terbangun dan yang terbangun, pada wilayah peruntukan yang seharusnya memiliki kriteria pembangunan 30% : 70% ,dimana jumlah yang terbangun pada suatu wilayah hanya diperbolehkan 70% dari jumlah luas kawasan sedangkan sisanya merupakan daerah hijau.
Kepadatan dan Kerapatan Bangunan dikota-kota besar Indonesia khususnya di jakarta secara tidak langsung ikut menciptakan dan menambah tingginya efek rumah kaca yang terjadi, berkurang luasan daerah hijau menyebabkan udara panas jakarta kurang terabsorsi dengan baik sehingga terjadi apa yang disekenal dengan nama “urban Heat Island Effect”. Suhu udara kota mengalami peningkatan tajam akibat dominannya material perkerasan yang tidak bisa menyerap energi UV ray dari cahaya matahari dengan baik seperti infrastruktur jalan, penggunaan mesin pendingin /Air conditioning yang mengeluarkan energi panas, Material bangunan yang merefleksikan energi panas, energi panas dari mesin-mesin kendaraan bermotor dan mengecilnya daerah pendingin seperti luasan jalur sungai dan danau-danau butan. untuk menyiasati hal tersebut seharusnya pemerintah daerah jakarta mulai memikirkan solusi-solusi yang tepat dimana ketersediaan ruang- ruang terbuka hijau tidak mungkin terjadi,profil dibawah ini merupakan gambaran kondisi peningkatan suhu yang terjadi sehingga terbentuk apa yang dinamakan ‘urban heat island effect’

Pengoptimalan bentuk atap dengan teknologi “Green Roof” pada bangunan ‘Green Architecture’ merupakan salah satu solusi yang baik bagi alternatif ketersediannya kawasan hijau baru bagi perkotaan , dibeberapa negara lain telah mulai mencoba untuk menerapkan solusi ini seperti pada contoh dibawah ini.

Untuk penjelasan terperinci dapat di lihat pada designflute
ECOCITY JAKARTA = UTOPIA ?
December 10, 2007 in Urban Landscape | Tags: Cityspace, urban design, Urban ecology | No comments
When a city accepts as a mandate its quality of life; when it respects the people who live in it; when it respects the environment; when it prepares for future generations, the people share the responsibility for that mandate, and this shared cause is the only way to achieve that collective dream. - Jaime Lerner
Apa yang menjadi cerita sukses sebuah kota yang bernama Curitiba ?
Curitiba kini menjadi contoh bagi penataan suatu wilayah kota yang terencana secara konferhensif dari kota-kota dipenjuru dunia mulai dari perencanaan kota,system transportasi,manajemen limbah kota dan intergarsi antar lintas sektoral
Pantas jika cutiba mendapat julukan “Ecological capital of Brazil.” Reputasi ini dimulai dari visi seorang arsitek bernama Jaime lerner yang berkeyakinan “cities needed to be rediscovered as instruments of change” (Curitiba video, 1992)
Sebuah contoh dari seorang walikota Jaime lerner dapat membongkar dan menyiapkan sebuah solusi sebelum permasalahan kota terjadi dengan membuat master plan kota secara konferhensif.

Arsitektur Tradisional Bugis

Perubahan Bentuk dan Fungsi Arsitektur Tradisional Bugis di Kawasan Pesisir Kamal Muara, Jakarta Utara
(Form and Function Change of the Buginese Traditional Architecture
At Kamal Muara Coastal Area, North Jakarta)

Raziq Hasan
Hendro Prabowo
Department of Architecture Gunadarma University
Jakarta, Indonesia

Abstract
Many architects believe that form and function in architecture is a response of the environment. Finally, we believe that traditional architecture is a manifestation of the local environmental response, including climate.
This paper is a part of an explorative study we have been doing about form and function change on Buginese traditional architecture at Kamal Muara Coastal Area, North Jakarta. Originally, the Buginese live in the peninsula of Sulawesi, including South Sulawesi Province. Some architectural elements, we guess, are an acculturation forms, are spatial pattern, stylistica pattern, and structure pattern (Schultz, 1988)

Keyword: Buginese architecture, traditional architecture, acculturation, form and function, environment.

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Penelitian tentang bentuk dan fungsi pada Rumah Tradisional Bugis di Kamal Muara Jakarta Utara ini merupakan satu upaya penelitian dalam konteks Arsitektur Tradisonal sebagai eksplorasi konsep bangunan yang pernah dikembangkan pada lalu untuk dilihat bagaimana perkembangannya pada masa kini di dalam lingkungan baru yang jauh dari asal tradisinya.
Rumah adalah kebudayaan fisik, yang dalam konteks tradisional merupakan bentuk ungkapan yang berkaitan erat dengan kepribadian masyarakatnya. Ungkapan fisiknya sangat dipengaruhi oleh faktor sosio-kulural dan lingkungan di mana ia tumbuh dan berkembang. Perbedaan wilayah dan latar budaya akan menyebabkan perbedaan pula dalam ungkapan arsitekturalnya.
Rumah Bugis di Kamal Muara Jakarta Utara adalah satu fenomena menarik yang perlu dilihat latar balakang ungkapannya dalam bentuk dan fungsi ruangnya secara arsitektural. Ia muncul akibat adanya para pendatang atau pemukim yang berasal dari suku Bugis di Sulawesi Selatan dan Tenggara. Secara incremental dan evolutif membentuk citra lingkungan baru di wilayah itu dengan mengangkat pola bentuk rumah sesuai dengan asal tradisinya.
Salah satu faktor penting yang menjadi perhatian dalam penelitian ini adalah bagaimana masyarakat Bugis ini mengantisipasi karakter lingkungan yang berbeda membentuk satu lingkungan hunian dengan karakter bentuk dan fungsi rumah yang masih mencirikan tradisi Bugis. Faktor apakah yang mendominasi keberlanjutan bentuk itu dan kendala apakah yang dihadapi dalam upayanya mempertahankan tradisinya dalam wujud bentuk dan fungsi rumah tinggalnya.

METODOLOGI

Populasi, Sample dan Satuan Kajian
Populasi yang akan diteliti adalah seluruh wilayah pemukiman Suku Bugis di Kamal Muara, Jakarta Utara. Sampel ditentukan secara purposive dengan jumlah yang tidak terlalu banyak. Kriteria sample untuk memaksimalkan keragaman dan gambaran konsep ruang secara spesifik, sekaligus dapat mewakili kelompok rumah dan komunitas yang lebih besar. Untuk mendapatkan informasi lengkap diperlukan informan, baik informan pangkal maupun informan pokok. Satuan kajian adalah menyangkut perubahan pola bentuk dan fungsi rumah dari sudut spasial, stilistika dan sistem strukturnya dengan variable peubah lingkungan fisik, faktor tradisi dan perilaku sosial.

Metode Penelitian
Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan pertimbangan :
Penelitian mengenai rumah tradisional pada umumnya lebih memiliki kaitan dengan nilai-nilai sosio kultural yang memiliki makna dan nilai heterogen serta pengertian symbol-simbol tradisi yang bersifat metaforik.
Keterkaitan antara bentuk dan fungsi ruang dengan faktor yang melatarbelakanginya sulit dideskripsikan secara deterministik. Diperlukan pendekatan yang bersifat holistik sehingga menuntut interpretasi yang sensitif dan adaptif terhadap pengaruh-pengaruh yang tidak saja bersifat fisik.

TINJAUAN TEORI

Bentuk dan Fungsi Arsitektur Sebagai Respon Terhadap Lingkungan
Manusia selalu berdampingan dengan alam dan tidak dapat melepaskannya dari batasan dan hukum-hukumnya. Karenanya iklim dan lingkungan memegang peranan yang penting dalam membentuk cara hidup manusia atau (lebih jauh) kebudayaan manusia. Keadaan alam yang berbeda melahirkan kebudayaan berbeda pula, demikian pula dengan arsitektur.
Semula arsitektur lahir sekadar untuk menciptakan tempat tinggal sebagai wadah perlindungan terhadap gangguan lingkungan: alam dan binatang (Rapoport,1969). Dengan demikian bentuk dan fungsi dalam arsitektur adalah respon manusia terhadap lingkungan (Crowe, 1995). Dalam perkembangannya respon terhadap lingkungan yang sama memiliki kecenderungan untuk menghasilkan satu cara dan bentuk yang sama. Suatu cara yang lahir begitu saja dan kemudian membentuk satu pola yang dianut bersama dan menjadi satu tradisi yang dikenal sebagai arsitektur vernacular (Rudolvsky, 1964). Grillo (dalam Sutedjo, 1982) memperkenalkan pula istilah archetype, yaitu bangunan pada suatu daerah yang sama memiliki bentuk dan ciri-ciri yang sama pula.
Salah satu faktor penting pewujud bentuk dalam arsitektur adalah fungsi. Karena pada dasarnya arsitektur adalah wadah pemenuhan kebutuhan terhadap aktivitas manusia, tercakup di dalamnya kondisi alami. Sedangkan aktivitas timbul dari kebutuhan manusia, baik fisik maupun psikologis. Fungsi dapat berubah dan berkembang terus-menerus tidak pernah berhenti. Menurut Horatio Greenough (dalam Sutrisno, 1984) terdapat hubungan erat antara bentuk, fungsi, dan alam. Ia memperkenalkan form follow function (bentuk mengikuti fungsi) dengan dua prinsip utama: bentuk akan berubah jika fungsi berubah dan fungsi baru tidak mungkin diikuti bentuk lama.
Schultz (1988), membagi tugas bangunan menjadi dua kutub utama yakni lingkungan fisik dan simbol yang saling berkaitan. Pallasma juga mengemukakan bahwa penghuni atau pengamat dalam arsitektur terhadap keseluruhan bentuk fisiknya tidak semata melayani fungsi arsitektur berkenaan dengan kenyamanan dalam pengertian termal, cahaya dan kekakuan secara fisik tetapi juga kesan, pengalaman dan makna yang terpendam yang mengajak dan diajak berkelana ke dalam keseluruhan penampakannya dalam sebuah geometri rasa. Ada berbagai kemungkinan penyelesaian bentuk dalam arsitektur sekali pun tujuan fungsional dan kondisi lingkungannya sama.
Arsitektur adalah lingkungan alamiah yang sengaja ditata dan dibangun untuk kepentingan tertentu dalam hidup manusia. Bentuk, fungsi dan simbol adalah perangkat yang saling berhubungan dan secara bersama-sama membentuk wujud keseluruhan dari objek arsitektur. Seluruh kultur dalam sebuah lingkungan dapat saja mempengaruhi dan membentuk cara bagaimana arsitektur dibangun dan dikembangkan (Agrest,1976). Penyusunan seluruh elemen dalam keutuhan arsitektur tidak bisa ditafsirkan dalam satu frame tunggal atau parsial. Perwujudan bentuk dan keterkaitan dengan fungsi di dalamnya melibatkan banyak aspek yang perlu dilihat secara holistik.

Kebudayaan dan Arsitektur Bugis
Kebudayaan Bugis seringkali digabungkan dengan kebudayaan Makassar, lalu disebut kebudayaan Bugis-Makassar (Mattulada dalam Koentjaraningrat, 1999). Kebudayaan tersebut mendiami bagian terbesar jasirah Selatan pulau Sulawesi, atau termasuk dalam propinsi Sulawesi Selatan. Penduduk propinsi Sulawesi Selatan sendiri terdiri dari empat suku yaitu: Bugis, Makassar, Toraja, dan Mandar.
Bardasarkan hasil penelitian etnologi, suku Bugis merupakan keturunan Melayu Muda (Deutro Melayu) yang berasal dari India Belakang. Mereka datang ke kepulauan Nusantara secara bergelombang. Gelombang pertama adalah Melayu Tua yang merupakan nenek moyang suku Toraja. Gelombang kedua, Melayu Muda merupakan nenek moyang suku Bugis, Mandar, dan Makasar.
Orang Bugis mengucapkan bahasa Ugi dan telah memiliki kesusasteraan tertulis sejak berabad-abad lamanya dalam bentuk lontar. Huruf yang dipakai adalah aksara lontara, sebuah sistem huruf yang berasal dari Sanskerta.
Kampung kuno orang Bugis umumnya terdiri dari sejumlah keluarga, antara 10 sampai 200 rumah. Rumah-rumah tersebut biasanya berderet, menghadap Selatan atau Barat. Jika ada sungai, maka diusahakan agar rumah-rumah tersebut membelakangi sungai. Pusat dari kampung lama merupakan suatu tempat keramat (possi tama) dengan suatu pohon beringin yang besar, dan kadang-kadang dengan satu rumah pemujaan (saukang). Selain tempat keramat, suatu kampung umumnya juga memiliki langgar atau masjid.
Pola perkampungan orang Bugis umumnya adalah mengelompok padat dan menyebar. Pola mengelompok banyak terdapat di dataran rendah, dekat persawahan, pinggir laut, dan danau, sedangkan pola menyebar banyak terdapat di pegunungan atau perkebunan. Selain itu perkampungan orang Bugis juga dapat dibedakan berdasarkan tempat pekerjaan, yaitu:
1.Pallaon ruma (kampung petani)
2.Pakkaja (kampung nelayan)
3.Matowa (kepala kampung)
Selain pembagian berdasarkan tempat pekerjaan di atas, pada kampung Bugis juga terdapat pasar kampung, kuburan, dan masjid/mushala.
Orang Bugis juga mengenal sistem tingkatan sosial yang sangat berkait dengan arsitektur. Pelapisan sosial tersebut antara lain adalah: Anakarung (bangsawan), to maradeka (rakyat biasa), dan ata (sahaya)


Berdasarkan lapisan sosial penghuninya, berdampak pada pola bentuk rumah yang disimbolkan berbeda-beda, yaitu:
1.Sao-raja (sallasa), adalah rumah besar yang didiami keluarga kaum bangsawan (Anakarung). Biasanya memiliki tiang dengan alas bertingkat di bagian bawah dan dengan atap di atasnya (sapana) yang memiliki bubungan bersusun tiga atau lebih,
2.Sao-piti’, bentuknya lebih kecil tanpa sapana, dan memiliki bubungan yang bersusun dua.
3.Bola, merupakan rumah bagi masyarakat umumnya.

Berdasarkan pola morfologinya, arsitektur Tradisional Bugis dapat dilihat dari beberapa segi sebagai berikut:

A. Pola Penataan Spatial
Arsitektur rumah Bugis umumnya tidak bersekat-sekat. Bentuk denah yang umum adalah rumah yang tertutup, tanpa serambi yang terbuka. Tangga depan biasanya di pinggir. Di depan tangga tersedia tempat air untuk mencuci kaki. Tangga rumah tersebut berada di bawah atap (Sumintardja, 1981). Selain itu rumah Bugis umumnya memiliki suatu ruang pengantar yang berupa lantai panggung di depan pintu masuk, yang dinamakan tamping. Biasanya tempat ini difungsikan sebagai ruang tunggu bagi para tamu sebelum dipersilakan masuk oleh tuan rumah.
Rumah Bugis juga dapat digolongkan menurut fungsinya (Mattulada dalam Koentjaraningrat, 1999). Secara spatial vertikal dapat dikelompokkan dalam tiga bagian berikut:
1.Rakeang, bagian atas rumah di bawah atap, terdiri dari loteng dan atap rumah yang dipakai untuk menyimpan padi dan lain persediaan pangan serta benda-benda pusaka. Selain itu karena letaknya agak tertutup sering pula digunakan untuk menenun dan berdandan.
2.Alo-bola (alle bola), terletak antara lantai dan loteng ruang dimana orang tinggal dan dibagi-bagi menjadi ruang-ruang khusus, untuk menerima tamu, tidur, makan,
3.Awaso, kolong rumah yang terletak di bagian bawah antara lantai dengan tanah atau bagian bawah lantai panggung yang dipakai untuk menyimpan alat-alat pertanian dan ternak.
Sedangkan penataan spatial secara horisontal, pembagian ruang yang dalam istilah Bugis disebut lontang (latte), dapat dikelompokkan dalam tiga bagian sebagai berikut :
1.Lontang risaliweng (ruang depan), Sifat ruang semi private, berfungsi sebagai tempat menerima tamu, tempat tidur tamu, tempat bermusyawarah, tempat menyimpan benih dan tempat membaringkan mayat sebelum dikebumikan. Ruang ini adalah ruang tempat berkomunikasi dengan orang luar yang sudah diijinkan untuk masuk. Sebelum memasuki ruang ini orang luar diterima lebih dahulu di ruang transisi (tamping).
2.Lontang retengngah (latte retengngah) atau ruang tengah. Sifat ruang private, berfungsi untuk tempat tidur kepala keluarga dan anak-anak yang belum dewasa, tempat makan, melahirkan. Pada ruang ini sifat kekeluargaan dan kegiatan informal dalam keluarga amat menonjol.
3.Lontang rilaleng (latte rilaleng), sifat sangat private. Fungsi ruang ini untuk tempat tidur anak gadis atau nenek/kakek. Anggota keluarga ini dianggap sebagai orang yang perlu perlindungan dari seluruh keluarga.

Untuk Sao raja, ada tambahan dua ruangan lagi:
1.Lego-lego
Ruang tambahan, jika di depan difungsikan sebagai tempat sandaran, tempat duduk tamu sebelum masuk, tempat menonton ada acara di luar rumah.

2.Dapureng (jonghe)
Biasanya diletakkan di belakang atau samping. Fungsinya untuk memasak dan menyimpan peralatan masak

Pola Penataan Stilistika
1.Atap
Penampakan bangunan tersusun dari tiga bagian sesuai dengan fungsinya. Bagian atas (rakeang) baik untuk rumah bangsawan (Sao raja) maupun rumah rakyat biasa (Bola), terdiri dari loteng dan atap. Atap berbentuk prisma, memakai tutup bubungan yang disebut Timpak Laja. Timpak laja memiliki bentuk yang berbeda antara sao raja dan bola. Bagian ini diibaratkan sebagai kepala bangunan. Pada sao raja terdapat timpak laja yang bertingkat-tingkat antara tiga sampai lima. Timpak laja yang bertingkat lima menandakan rumah tersebut kepunyaan bangsawan tinggi. Timpak laja bertingkat empat, adalah milik bangsawan yang memegang kekuasaan dan jabatan-jabatan tertentu. Bagi bangsawan yang tidak memiliki jabatan pemerintahan timpak lajanya hanya bertingkat tiga.
Rakyat biasa yang diklasifikasikan ke dalam kelompok to maradeka dapat juga memakai timpak laja pada atap rumahnya, tetapi hanya dibenarkan membuat maksimal dua tingkatan timpak laja.

2. Bukaan
Dinding terbuat dari kayu yang disusun secara Salah satu bukaan yang terdapat pada dinding depan ialah pintu (babang/tange). Fungsinya adalah untuk jalan keluar/masuk rumah. Tempat pintu biasanya selalu diletakkan pada bilangan ukuran genap, misalnya ukuran rumah 7 (tujuh depa) maka pintu harus diletakkan pada depa yang ke 6 (enam) atau ke 4 (empat) diukur dari kanan rumah. Bila penempatan pintu ini tidak tepat pada bilangan genap, dapat menyebabkan rumah mudah untuk dimasuki pencuri atau penjahat.
Bukaan lain adalah jendela (tellongeng). Fungsinya adalah bukaan pada dinding yang sengaja dibuat untuk melihat keluar rumah dan juga berfungsi sebagai ventilasi udara ke dalam ruangan. Peletakannya biasanya pada dinding diantara dua tiang. Pada bagian bawahnya biasanya diberi tali atau penghalang (Sumintardja, 1981). Untuk memperindah biasanya ditambahkan hiasan berupa ukiran sebagai hiasan atau terali dari kayu dengan jumlah bilangan ganjil. Jumlah terali dapat menunjukkan status penghuninya. Jika jumlah terali 3-5 menunjuukan rakyat biasa dan jika 7-9 menunjukkan rumah bangsawan.

3. Ragam Hias
Ragam hias bangunan arsitektur Bugis umumnya bersumber dari alam sekitar, biasanya berupa flora, fauna dan tulisan huruf Arab atau kaligrafi.
Ragam hias flora biasanya berupa bunga parengreng yang berarti bunga yang menarik. Bunga ini hidupnya menjalar berupa sulur-sulur yang tidak ada putus-putusnya. Biasanya ditempatkan pada papan jendela, induk tangga dan tutup bubungan. Makna bunga parengreng ini diibaratkan sebagai rezeki yang tidak terputus seperti menjalarnya bunga parengreng.
Ragam hias fauna biasanya berupa ayam jantan, kepala kerbau dan bentuk ular naga. Ayam jantan dalam bahasa Bugis disebut manuk yang berarti baik-baik. Selain itu juga sebagai simbol keberanian. Biasanya ditempatkan di puncak bubungan rumah bagian depan atau belakang
Ragam hias kepala kerbau melambangkan kekayaan dan status sosial. Biasanya ditempatkan pada pucuk depan atau belakang bubungan untuk rumah bangsawan.
Ragam hias naga atau ular besar melambangkan kekuatan yang dahsyat. Biasanya ditempatkan pada pucuk bubungan atau induk tangga.
Ragam hias yang berupa kaligrafi dan bulan sabit biasanya ditempatkan pada bangunan peribadatan atau masjid.
Ragam hias flora yang berupa sulur-sulur bunga yang menjalar biasanya menggunakan teknik pahat tiga dimensi yang membentuk lobang terawang. Bentuk demikian selain makin menampakkan keindahan karena adanya efek pencahayaan yang dibiaskan juga dapat menyalurkan angin dengan baik.

C. Pola Penataan Struktur
Bahan bangunan utama yang banyak digunakan umumnya kayu. Bahan bangunan yang biasanya digunakan : Kayu Bitti, Ipi, Amar, Cendana, Tippulu, Durian, Nangka, Besi, Lontar, Kelapa, Batang Enau, Pinang, Ilalang dan Ijuk.
Dinding dari anyaman bambu atau papan. Atap dari daun nipah, sirap atau seng. Sistem struktur menggunakan rumah panggung dengan menggunakan tiang penyangga dan tidak menggunakan pondasi. Rumah tradisional yang paling tua, tiang penyangganya langsung ditanam dalam tanah. Tahap yang paling penting dalam sistem struktur bangunan adalah pembuatan tiang (aliri). Pembuatan tiang dimulai dengan membuat posi bola (tiang pusat rumah). Bila rumah terdiri dari dua petak maka letak tiang pusat ialah pada baris kedua dari depan dan baris kedua dari samping kanan. Bila tiga petak atau lebih maka letak tiang pusat adalah baris ketiga dari depan dan baris kedua dari samping kanan.
Secara terinci ciri-ciri struktur rumah orang Bugis antara lain adalah:
1.Minimal memiliki empat petak atau 25 kolom (lima-lima) untuk sao-raja dan tiga petak atau 16 kolom (untuk bola)
2.Bentuk kolom adalah bulat untuk bangsawan, segiempat dan segidelapan untuk orang biasa
3.Terdapat pusat rumah yang disebut di Pocci (posi bola) berupa tiang yang paling penting dalam sebuah rumah, biasanya terbuat dari kayu nangka atau durian; letaknya pada deretan kolom kedua dari depan, dan kedua dari samping kanan.
4.Tangga diletakkan di depan atau belakang, dengan ciri-ciri:
a.Dipasang di ale bola atau di lego-lego.
b.Arahnya ada yang sesuai dengan panjang rumah atau sesuai dengan lebar rumah.
5.Atap berbentuk segitiga sama kaki yang digunakan untuk menutup bagian muka atau bagaian belakang rumah
6.Lantai (dapara/salima) menurut bentuknya bisa rata dan tidak rata. Bahan yang digunakan adalah papan atau bamboo.
7.Dinding (renring/rinring) terbuat dari kulit kayu, daun rumbia, atau bambu.
8.Jendela (tellongeng) jumlahnya tiga untuk rakyat biasa, tujuh untuk bangsawan
9.Pintu (tange sumpang) diyakini jika salah meletakkan dapat tertimpa bencana, sehingga diletakkan dengan cara sebagai berikut:
Jika lebar rumah sembilan depa, maka pintu diposisikan pada depa ke-8; artinya lebar rumah selelu ganjil dan pintu diletakan pada angka genap.

Akulturasi
Akulturasi dipahami sebagai fenomena yang akan terjadi tatkala kelompok-kelompok individu yang memiliki budaya berbeda terlibat dalam kontrak yang berlangsung secara tangan pertama (langsung), disertai perubahan terus – menerus, sejalan pola-pola budaya asal dari kelompok itu atau dari kedua kelompok itu.
Menurut Koentjaraningrat (1996) akulturasi adalah istilah antropologi yang memiliki beberapa makna, yang kesemuanya itu mencakup konsep mengenai proses sosial yang timbul apabila sekelompok manusia dengan sesuatu kebudayaan tertentu dihadapkan kepada unsur-unsur dari suatu kebudayaan asing sehingga unsur-unsur asing tersebut lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaan sendiri, tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian kebudayaan itu. Unsur kebudayaan tidak pernah didifusikan secara terpisah, melainkan senantiasa dalam suatu gabungan atau kompleks yang terpadu.
Akulturasi budaya dalam arsitektur tidak dapat dielakkan dan pasti terjadi. Bentuk dan fungsi adalah dialektika yang terus-menerus saling tarik menarik di tangah kondisi sosial- budaya masyarakatnya. Dan arsitektur bukan semata-mata desain tetapi juga elemen non desain yang dapat menggeser dan menggantikan sedemikian rupa setiap fakta budaya yang sedang berlangsung. Perubahan bentuk dan fungsi dalam arsitektur dapat terjadi melalui elemen budaya: teknologi, ekonomi, sosio ideologi dan aliran apapun yang berkeliaran dan mampu menguasai gagasan, cara pandang dan jiwa masyarakat dalam jamannya. Namun demikian pada akhirnya bentuk dan fungsi dalam arsitektur yang muncul adalah pengalaman rasa yang diminati dan diyakini manfaatnya oleh sekelompok masyarakatnya secara komunal. Setiap perubahan yang terjadi, bagaimana pun tidak akan pernah begitu saja merubah cara hidup, respon dan persentuhan manusia dengan lingkungannya ketika kekuatan-kekuatan psikis yang dimiliki masih melekat dengan rona budaya sebelumnya.

Arsitektur Tradisional Bugis di Kawasan Pesisir Kamal Muara
Kamal Muara adalah perkampungan nelayan yang terletak di sebelah Utara Jakarta atau berada di wilayah pesisir teluk Jakarta. Perkampungan ini merupakan salah satu jalur transportasi menuju kepulauan Seribu selain Ancol. Beragam etnis tinggal di perkampungan ini, antara lain Betawi, Bugis, Sunda, Jawa, Flores, Sumba, Sumbawa, dan Timor. Dua etnis yang dominan adalah Bugis dan Betawi.
Mata pencaharian penduduk di Kamal Muara sebagian besar adalah nelayan, yaitu: nelayan penangkap ikan dan peternak kerang hijau. Sebelum kedatangan orang Bugis, orang Betawi umumnya hanya menangkap ikan dengan menggunakan jala dan perangkap ikan di pantai. Orang Bugis memperkenalkan metode menangkap ikan dengan menggunakan perahu dan bagan. Bagan adalah semacam kerangka dari bambu yang dibuat menyerupai tenda pada bagian di atas permukaan laut. Pada bagian di bawah permukaan laut terdapat beberapa batang bambu yang dirangkai sepanjang kurang lebih 30 meter. Setiap sore setelah sholat Ashar, para nelayan bagan melaut untuk menangkap ikan dengan menggunakan petromaks.
Pekerjaan beternak kerang hijau bukanlah pekerjaan asli orang Bugis. Pada bagan yang diletakkan di lepas pantai, seringkali rangkaian bambu secara tidak sengaja ditempeli oleh kerang hijau yang ternyata banyak terdapat di teluk Jakarta. Dalam perkembangannya orang Bugis membuat semacam bagan khusus untuk ternak kerang hijau. Rangkaian bambu pada bagan tersebut dililit dengan tali tertentu agar kerang hijau dapat menempel dan hidup dengan mudah di lilitan tersebut. Bagan dan ternak kerang hijau, umumnya diletakkan di lepas pantai tidak jauh dari pulau-pulau di kepulauan Seribu.
Pola pemukiman orang Bugis berada di garis pantai dan beberapa di antaranya tinggal di rumah panggung di atas permukaan air laut. Sementara orang Betawi tinggal di “daratan” di sebelah Selatan perkampungan orang Bugis.
Yang menjadi pertanyaan penelitian adalah: apakah pola pemukiman orang Bugis tetap mempertahankan tradisi asal-usulnya? Apakah pola pemukiman mengalami perubahan sebagai respon terhadap lingkungan alam dan iklim baru?

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Perubahan Bentuk dan Fungsi pada Arsitektur Tradisional Bugis di Kamal Muara
Makalah ini adalah suatu studi eksploratif terhadap perubahan pola pemukiman tradisional orang Bugis di perantauan (Kamal Muara), dengan mengkaji beberapa aspek bentuk fisik arsitektural seperti: denah, orientasi rumah dan perkampungan, peninggian lantai, ventilasi, dan sebagainya. Adapun kajian terhadap bentuk fisik arsitektural tersebut akan dianalisis dengan beberapa aspek antara lain : pola spasial, pola stilistika dan pola struktur bangunannya.

A.Pola Spasial
1.Struktur Kampung
Kampung Kamal Muara berdasarkan foto udara, dapat dilihat pada gambar 1 berikut ini:


















Gambar 1. Foto Udara Kampung Kamal Muara

Berdasarkan gambar 1 di atas, maka perkampungan orang Bugis dan terletak di garis pantai dengan pola linier mengikuti alur sungai yang mengarah dari Barat Daya menuju ke Timur Laut. Sementara, perkampungan orang Betawi berada di “daratan”.
Secara lebih terinci, permukiman dan rumah-rumah orang Bugis di Kamal Muara dibangun mengikuti pola alur sungai, jalan, dan gang.











Perkampungan orang Bugis di Kamal Muara adalah pakkaja (kampung nelayan) dengan pola berderet dan mengelompok mengikuti alur sungai dan jalan. Sebagian dari rumah-rumah tersebut membelakangi sungai. Pola demikian sesuai dengan pola spasial kampung pada tradisional Bugis di daerah asalnya.
Orientasi rumah dalam struktur kampung menghadap ke jalan atau gang (lihat gambar.3), karena tidak terdapat pusat orientasi yang biasanya berupa pohon yang besar. Namun demikian kampung Bugis di Kamal Muara memiliki langgar atau masjid yang biasanya juga dapat menjadi pusat orientasi.

























Gambar 3. Orientasi Rumah dalam Seting Kampung Orang Bugis

2. Tata Letak Rumah
Denah rumah pada umumnya masih mengikuti kaidah-kaidah arsitektur tradisional Bugis. Hal ini terwujud dalam pembagian ruangan atau petak (lontang/latte), yang tetap dibagi-bagi menjadi tiga bagian:
a.Lontang risaliweng (ruang depan), berfungsi untuk menerima tamu dan tempat tidur tamu (public)
b.Lontang retengngah (latte retengngah) atau ruang tengah, berfungsi untuk tempat tidur kepala keluarga dan anak-anak yang belum dewasa, tempat makan (private).
c.Lontang rilaleng (latte rilaleng): tempat tidur anak gadis, dapur, dan kamar mandi.
Gambar 4. Pembagian Ruang Rumah Orang Bugis

Tamping, pada umumnya hanya terletak di depan rumah. Tamping ini memiliki fungsi sebagai tempat bersantai, mengobrol, maupun untuk ruang tamu sebelum dipersilakan masuk. Bandingkan dengan rumah tradisional Bugis yang di TMII yang memiliki dua tamping di depan dan belakang rumah.

















Gambar 5. Tamping pada Rumah di Kamal Muara (Kiri) dan Tamping pada Rumah di TMII yang Terletak di Depan dan Belakang Rumah (Kanan)







Menurut fungsinya rumah orang Bugis di Kamal Muara dibagi juga menjadi tiga bagian secara vertikal, yaitu :
a.Rakkeang, bagian atas rumah di bawah atap. Bagian ini tidak lagi difungsikan sebagai tempat penyimpanan.
b.Alo-bola (alle bola), terletak antara lantai dan loteng ruang dimana orang tinggal dan dibagi-bagi menjadi ruang-ruang khusus, untuk menerima tamu, tidur, makan, dan dapur seperti pada gambar 3 di atas.
c.Awaso, kolong rumah yang terletak di bagian bawah antara lantai dengan tanah atau bagian bawah lantai panggung yang dipakai untuk menyimpan alat-alat untuk mencari ikan.
Gambar 6. Pembagian Ruang Menurut Fungsi pada Rumah Orang Bugis
















Gambar 7. Penggunaan Awaso (Kolong) di Kamal Muara (Kiri) dan TMII (Kanan)

Awaso di Kamal Muara pada umumnya masih difungsikan sebagaimana yang terdapat di tempat asalnya, yakni untuk penyimpanan alat-alat untuk mencari ikan, beternak, motor, atau tempat untuk istirahat siang seperti pada gambar 7 di atas.
Orientasi rumah pada umumnya mengikuti arah jalan, dan tidak lagi memperhatikan orientasi arah mata angin yang seharusnya menghadap ke Timur. Orientasi ini selain untuk menangkap sinar matahari pagi juga dimaksudkan untuk menyesuaikan pada pola tidur penghuni di bagian kanan ruang dalam bangunan dalam arah Selatan-Utara dan harus meletakkan kepalanya pada arah Selatan serta kaki diarahkan ke sebelah kiri bangunan sesuai dengan arah buangan segala kotoran dan ruh jahat.
Namun demikian pertimbangan lain berkaitan dengan sistem pembuangan air kotor dan arah kaki ketika tidur masih mengikuti pola asal yaitu ke arah kiri bangunan.

B.Pola Stilistika
1.Atap
Seperti pada bangunan arsitektur tradisional Bugis di daerah asal, pola penampakan bangunan di Kamal Muara tersusun dari tiga bagian sesuai dengan fungsinya. Bagian atas (rakeang), terdiri dari loteng dan atap. Atap menggunakan bahan dari seng dan sebagian asbes. Bentuk prisma, memakai tutup bubungan yang disebut Timpak Laja. Timpak laja dibuat dari bahan seng dan sebagian kayu. Pola susunannya tidak diolah dalam pola-pola tingkatan tertentu yang dapat membedakan status sosial penghuninya. Pada umumnya penghuni adalah masyarakat Bugis yang berada pada kelas menengah ke bawah. Selain karena keterbatasan lahan filosofi bentuk kurang memiliki makna dalam pandangan masyarakatnya.









Gambar 8. Atap Rumah di Kamal Muara (Kiri)
dan Miniatur Rumah Tradisional Bugis di TMII (Kanan)

2. Bukaan
Pada umumnya dinding menggunakan bahan kayu yang disusun secara melintang horisontal dan dilapisi dengan cat kayu warna, hanya sebagian yang menggunakan seng gelombang yang dipasang arah vertikal. Elemen penting pada dinding depan ialah pintu (babang/tange). Pintu diletakkan pada depa ke empat, karena jumlah tiang pada bagian depan berjumlah 5 (lima). Hal yang spesifik pada penyelesaian pintu adalah adanya dinding pembatas setinggi lutut pada bagian bawah. Fungsi penyelesaian bukaan pintu demikian bertujuan untuk melindungi anak-anak agar tidak jatuh ke bawah karena sebagian besar lokasi rumah menempati daerah rawa.





























Gambar 9. Pintu Masuk yang Ditinggikan

Bukaan lain adalah jendela (tellongeng). Fungsinya adalah bukaan pada dinding yang sengaja dibuat untuk melihat keluar rumah dan juga berfungsi sebagai ventilasi udara ke dalam ruangan. Jumlah jendela 3 (tiga) buah. Peletakannya pada dinding di antara dua tiang. Pada bagian bawahnya terdapat terali kayu yang dipasang vertikal. Untuk memperindah dan menjaga keamanan ditambahkan jeruji kayu dengan jumlah bilangan ganjil. Jumlah terali 5 buah, hal ini sesuai dengan konsep rumah tradisional Bugis, untuk menunjukkan rumah rakyat biasa.

















Gambar 10. Bukaan Jendela

Pada bagian samping terdapat bukaan yang berupa lobang ventilasi dan pemasangan papan kayu secara longgar untuk mengalirkan udara silang dari arah berbeda dari bukaan jendela depan. Bukaan ini sangat sederhana namun tepat guna dan memiliki corak yang sama berupa bentuk geometri segi enam sebanyak tiga buah.



3. Ragam Hias
Ragam hias rumah di lokasi ini tidak begitu menonjol. Di bagian depan pada timpak laja terdapat motif kayu tempel yang menyerupai motif sinar matahari. Maksudnya adalah sebagai lambang pencerahan yang diilhami oleh elemen-elemen bentuk yang banyak digunakan oleh simbol-simbol organisasi Islam.
Selain itu pada dinding samping lubang ventilasi dengan bentuk segi enam dan penyusunan kayu yang tidak rapat memberikan efek pencahayaan yang cukup menarik bila dilihat dari sisi dalam rumah. Lubang ini pada umumnya terletak di sisi Timur dan Barat. Sinar matahari yang masuk secara tidak langsung juga menjadi alat pemandu waktu. Pagi sebagai pertanda untuk bangun dan sore pertanda malam akan tiba.













Gambar 11. Lubang Ventilasi Pada Dinding Samping


C.Pola Struktur
Rumah pada kasus penelitian ini pada umumnya memiliki minimal tiga petak atau 15 tiang. Ukuran agak kecil karena penghuni sebagian besar adalah masyarakat dengan kelas ekonomi menengah ke bawah (umumnya nelayan). Bentuk kolom sudah tidak mengikuti kaidah yaitu berbetuk segiempat. Tiang menggunakan kayu nibung yang didatangkan dari Sumatera. Tiang dan struktur yang lain menggunakan kayu yang banyak terdapat di pasaran.
Tangga umumnya diletakkan di depan rumah, dipasang di ale bola. Arahnya ada yang sesuai dengan dengan lebar rumah (lihat gambar 5).
Sistem konstruksi atap sudah tidak berbentuk prisma lagi, tetapi berbentuk pelana biasa dengan kemiringan yang agak landai karena bahan atap terbuat dari bahan seng dan asbes. Sekalipun pada bagian depan (timpak laja) berusaha untuk tampak seperti bentuk prisma. Perbandingan di bawah ini dapat dijadikan patokan.
Lantai (dapara/salima) bentuknya rata dan bahan yang digunakan adalah papan. Sementara dinding (renring/rinring) terbuat dari kulit kayu, daun rumbia, atau bambu.
















Gambar 12. Sistem Sambungan Balok Lantai dan Tiang



Kesimpulan
Pada umumnya masyarakat memiliki keinginan yang kuat untuk tetap menggunakan pola penataan fungsi dan bentuk rumahnya sesuai dengan pakem yang ditentukan oleh adat istiadat Bugis yang telah dikenalnya secara turun temurun, baik dari segi spatial, stilistika dan struktural. Namun hal ini sulit dilaksanakan karena beberapa pertimbangan berikut :
a.Dari segi Spatial
Pertautan budaya dengan lingkungan sekitar yang kurang memiliki ikatan emosional yang kuat dengan budaya asalnya (masyarakat heterogen).
Interaksi sosial yang menuntut perubahan bentuk secara fungsional dan kesejamanan. Ada rasa rendah diri dari anggota keluarga (khususnya remaja) terhadap pola rumahnya yang berbentuk panggung.
Kebutuhan ruang aktifitas keluarga yang lebih privat, sehingga ruang-ruang disekat sesuai jumlah anggota keluarga. Hal ini berbeda dengan pola penataan ruang dalam yang ada pada pola spatial Arsitektur Bugis.
b.Dari segi Stilistika
Hilangnya makna simbolik terhadap elemen-elemen bentuk stilistik. Rancangan bangunan lebih dipandang dari sudut fungsional semata.
Kurangnya pengetahuan masyarakat Bugis terhadap dasar-dasar filosofi bentuk disamping tidak adanya lembaga dan aturan yang mengikat nilai-nilai ini.
c.Dari segi Struktural
- Bahan bangunan utama (kayu ulin) sulit didapat di wilayah pemukiman sehingga harganya sangat mahal.
Ketinggian kolom tidak direncanakan terhadap kemungkinan terjadinya abrasi pantai, sehingga fungsi ruang bawah (awa bola) tidak dapat difungsikan sebagaimana mestinya. Makin lama ketinggian ruang bawah rumah makin berkurang karena tuntutan pengurugan.
Adanya anggapan bahwa rumah dengan bahan bata dipandang lebih baik dalam perawatan dan daya tahan. Selain itu, rumah bata juga dianggap menunjukkan tingkat kemampuan ekonomi penghuni yang lebih baik.



Referensi:
Agrest, D, (1996), “Design Versus Non-Design”, Oppositions 6, 1976 in Kate Neisbitt (ed) Theorizing a New Agenda for Architecture, Princeton Architecture, New York:, p771-776
Crowe, N, (1995), Nature and the Idea of a Man-Made World: an Investivigation into the Evolutionary Roots of Form and Order in the Built Environment, MIT Press, Massachusetts.
Koentjaraningrat (1999), Manusia dan Kebudayaan di Indonesia, Djambatan, Jakarta.
Pallasma, J (1996), “The Geometry of Feeling, A Look at the Phenomenology of Architecture,” Scala : Nordic Journal of Architecture and Art, in Kate Neisbitt (ed) Theorizing a New Agenda for Architecture, Princeton Architecture, New York, p.447-452
Rapoport, A, (1969), House, Form and Culture, Prentice Hall, New York.
Rudovsky, B, (1964), Architecture Without Architects, Academy Editions, London.
Schultz, C, N, (1988), Architecture: Meaning and Place, Rizzoli, New York.
Sumintardja, D, (1981), Kompedium Sejarah Arsitektur, Yayasan Lembaga Penyelidikan Masalah Banagunan, Bandung.
Sutrisno, R, (1984). Bentuk Struktur Bangunan Dalam Arsitektur Modern,Gramedia, Jakarta.
Tanudjaja, F,C,J,S, (1998). Kerangka Makna di Dalam Arsitektur, Penerbit UAJY, Yogyakarta.































PERBANDINGAN PERUBAHAN BENTUKDAN FUNGSI RUMAH TRADISIONAL BUGIS DAN RUMAH ARSITEKTUR BUGIS DI KAMAL MUARA
NO
POLA SPATIAL
POLA STILISTIKA
POLA SRUKTURAL